Konflik Rusia Vs Ukraina
Sebut Rusia Perlu Praktikkan Hukuman Ala Nazi, Tokoh Ini Peringatkan Penentang Invasi ke Ukraina
Figur publik Rusia memberikan pernyataan kontroversial mengenai konflik di Ukraina.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Figur publik Rusia memberikan pernyataan kontroversial mengenai konflik di Ukraina.
Ia menyebutkan mengenai ancaman tanpa ampun bagi para penentang invasi Rusia ke Ukraina.
Dikatakan bahwa hukuman tersebut mencangkup praktik terlarang yang pernah diterapkan oleh Nazi di masa lalu.

Baca juga: AS Akui Bantu Ukraina Lenyapkan Jenderal-jenderal Perang Rusia dengan Cara Berikut Ini
Baca juga: Unggah Video Konflik di Mariupol, Media Rusia Sebut Tentara Ukraina Curangi Momen Gencatan Senjata
Dilansir TribunWow.com dari Daily Mail, Kamis (5/5/2022), Karen Shakhnazarov, seorang pembuat film pro-Putin, mengecam setiap penentang huruf Z yang merupakan simbol invasi Rusia.
Ia mengatakan lawan tersebut akan menghadapi tindakan tanpa belas kasih dari Rusia.
Dalam acara yang disiarkan saluran televisi milik negara, Rusia 1, ia memperingatkan bahwa penentang perang Rusia di Ukraina akan menghadapi hukuman keras termasuk kamp konsentrasi dan sterilisasi.
"Penentang huruf Z harus memahami bahwa jika mereka mengandalkan belas kasihan, tidak, tidak akan ada belas kasihan bagi mereka," kata Shakhnazarov, yang memimpin studio film Mosfilm yang didukung Kremlin.
"Semuanya menjadi sangat serius. Dalam hal ini, itu berarti kamp konsentrasi, pendidikan ulang dan sterilisasi."
Shakhnazarov kemudian mengklaim komentarnya telah diambil di luar konteks, tetapi tidak memberi keterangan lebih jauh.
Seolah mengonfirmasi pernyataan tersebut, sebelumnya santer diberitakan bahwa ribuan penduduk Mariupol dibawa paksa pasukan Rusia.
Hingga saat ini belum diketahui nasib penduduk yang didominasi wanita dan anak-anak tersebut.
Muncul kekhawatiran bahwa pasukan Presiden Vladimir Putin mengumpulkan para penduduk tersebut ke semacam kamp konsentrasi.
Dilansir TribunWow.com dari Sky News, Minggu (20/3/2022), Walikota Mariupol Vadym Boychenko mengklaim bahwa beberapa ribu penduduk Mariupol telah dibawa secara paksa ke Rusia.
Namun, belum ada bukti maupun konfirmasi dari pihak terkait mengenai tudingan ini.
Boychenko menuduh beberapa penduduk diarahkan ke kota-kota terpencil begitu melintasi perbatasan Rusia.