Konflik Rusia Vs Ukraina
Sindir Diplomat Negaranya, Eks Menteri Rusia: Mereka Mempermalukan Diri Sendiri
Mantan menteri Rusia mengutuk diplomat dari negaranya sendiri terkait konflik Rusia-Ukraina.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Mantan Menteri Luar Negeri Rusia, Andrei Kozyrev menyindir diplomat dari negaranya asalnya sendiri.
Sindiran yang disampaikan oleh Kozyrev masih terkait dengan konflik antara Rusia dan Ukraina.
Kozyrev sendiri merupakan mantan menteri di era Boris Yeltsin.
Baca juga: Media Inggris Beritakan Tentara Rusia Muak Diperintah Bunuh Warga Sipil, Siap Lawan Balik Putin
Baca juga: Jurnalis AS Bongkar Isi Berita yang Disiarkan TV Pemerintah Rusia soal Konflik di Ukraina
Dikutip TribunWow.com dari aljazeera.com, Kozyrey menyebut apa yang telah dilakukan oleh diplomat dari negaranya adalah hal yang menjijikkan.
Saat berbicara dengan jurnalias asal Inggris, Kozyrev menyampaikan diplomat Rusia seharusnya segera mengundurkan diri.
"Mereka hanya menyebar propaganda, dan ini adalah hal yang tidak baik dilakukan untuk seorang diplomat," ujar Kozyrev.
"Mereka telah mempermalukan diri mereka sendiri."
Kozyrev menambahkan, mendengarkan pernyataan yang disampaikan oleh diplomat Rusia hanyalah buang-buang waktu.
Sebelumnya, pada Rabu (16/3/2022) beredar sebuah video di media sosial (medsos) menampilkan jasad sejumlah warga sipil di Ukraina dalam kondisi tak bernyawa.
Otoritas Ukraina menyebut ada 10 warga sipil tewas dibunuh pasukan militer Rusia saat sedang mengantre beli roti di Kota Chernihiv/Chernigov.
Menanggapi hal ini, pemerintah Rusia tegas membantah telah membunuh warga di Chernihiv.
Dikutip TribunWow.com dari Tass.com, pemerintah Rusia menuding video yang beredar adalah sebuah propaganda yang dilakukan oleh badan intelijen Ukraina.
Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov.
Konashenkov menyampaikan sejumlah pihak secara serentak merilis video propaganda tersebut.
"Saya ingin menekankan bahwa tidak ada pasukan Rusia di Chernigov," tegas Konashenkov.