Terkini Daerah
Viral Ricuh TNI dan Petani di Seituan, Ada 2 Versi Cerita Saling Berlawanan, Begini Pengakuannya
Warga setempat mengaku menerima tindak kekerasan dari pihak TNI namun di sisi lain pihak militer mengungkapkan kronologi berbeda.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Saat para pasukan beristirahat sekira pukul 11.30 WIB, warga setempat mengadang jalan menggunakan batu dan kayu di depan truck Yon Zipur I/DD.
Karena pemasangan plang kedua dan ketiga untuk titik selatan dan timur lokasi tidak dilaksanakan, maka personelnya diperintahkan meninggalkan lokasi.
Sayangnya, dua unit truk mobil Yonzipur I/DD di titik timur tidak bisa meninggalkan lokasi.
Wendrizal mengaku saat itu memberikan beberapa opsi kepada warga atau penggarap.
Pertama, penggarap mencabut sendiri plang kepemilikan yang terlah didirikan oleh Puskopar "A" BB.
Namun penggarap menolak hal tersebut.
Kedua, Puskop Kartika "A" BB akan mencabut plang kepemilikan HGU dengan syarat penggarap juga mencabut plang yang telah didirikan penggarap.
Pada saat kejadian tidak terjadi kesepakatan.
Kemudian pihak penggarap atau warga mulai anarkis dengan melempari personil dengan lumpur.
Pihaknya pun mengejar para penggarap yang dianggap menjadi provokator massa.
Massa pun berhamburan dan personelnya meninggalkan lokasi.
"Tidak ada korban baik dari pihak masyarakat penggarap maupun personel dan pasukan yang bertugas," tegas Wendrizal. (TribunWow.com/Anung)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul BENTROK TNI dengan Petani Desa Seituan Viral di Medsos, Kepala Desa Sebut Tiga Anak Dipijak Oknum dan Tribunnews.com dengan judul Penjelasan Kodam Terkait Kericuhan Anggota TNI dengan Petani di Deliserdang Sumut