Terkini Daerah
Viral Ricuh TNI dan Petani di Seituan, Ada 2 Versi Cerita Saling Berlawanan, Begini Pengakuannya
Warga setempat mengaku menerima tindak kekerasan dari pihak TNI namun di sisi lain pihak militer mengungkapkan kronologi berbeda.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Menurut keterangan Parningotan ada anak-anak di bawah umur yang diinjak oleh oknum anggota TNI.
"Anak-anak masih SMP dan 13 tahun jadi korban. Karena masyarakat saya dipijak ya saya juga nggak terima."
"Ini kita mau ngadu ke Komnas Perlindungan Anak juga ini supaya tahu Bapak Aris Merdeka Sirait. Ya saya nggak tahu kenapa bisa sampai gitunya kali, ya mungkin emosi TNI nya," kata Parningotan.
Parningotan mengakui dirinya tidak melihat langsung kericuhan, namun saat ia datang pihak Pusokpad TNI AD sudah tidak ada lagi di tempat kejadian perkara (TKP).
"Kalau sudah diginiin masyarakat saya yang jelas perlu hukum bertindak karena sudah melampaui pemerintah desa mereka bertindak."
"Sudah dari dulunya dikuasi masyarakat tanah itu. Ada 160an orang juga itu masyarakat yang punya selama ini," kata Parningotan.
Parningotan menjelaskan, warga tidak mau pindah sebab 98 persen penduduk berprofesi sebagai petani.
TNI Diprovokasi
Di sisi lain, menurut pihak TNI, kericuhan terjadi ketika anggota hendak memasang plang.
Keterangan ini diungkapkan oleh Kodam I/BB Medan lewat Letkol Caj Drs Wendrizal Sekum Puskopkar "A" BB.
Dikutip dari Tribunnews.com, pada hari kejadian, anggota TNI hendak memasang plang pemberitahuan bahwa lahan tersebut adalah milik Kodam I/BB berdasarkan keputusan Mahkamah Agung.
Wendrizal menjelaskan, para anggota TNI tiba di lokasi sekira pukul 09.30 WIB.
Pemasangan plang sempat terhambat gara-gara warga tidak mengizinkan.
Pihak TNI pun sempat pindah beberapa kali untuk memasang plang.
"Sekitar 10.30 WIB massa semakin ramai dan sebagian besar ibu dan orang tua yang memprovokasi pasukan terpancing untuk melakukan pemukulan atau tindakan kekerasan," ucap Wendrizal, Rabu (5/1/2022).