Breaking News:

Lawan Covid19

Waspadai Ancaman Hoaks dan Disinformasi soal Covid-19, Jubir Kominfo: Harus Jadi Perhatian Bersama

Upaya penanganan Covid-19 masih terganggu oleh ragam hoaks mengenai pandemi yang menyerang beragam kalangan tua ataupun muda.

Intisari
Ilustrasi hoaks. Upaya penanganan Covid-19 masih terganggu oleh ragam hoaks mengenai pandemi yang menyerang beragam kalangan tua ataupun muda. 

Kedua, hoaks tentang vaksinasi Covid-19 telah ditemukan sebanyak 385 isu vaksinasi covid 19 pada 2.449 unggahan media sosial dengan persebaran terbanyak pada platform Facebook sejumlah 2.257 unggahan.

Kini, kata Dedy, pihaknya telah melakukan pemutus akses terhadap 2449 unggahan hoaks vaksinasi Covid 19.

Ketiga, lanjut Dedy, hoaks tentang Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Telah ditemukan sebanyak ditemukan sebanyak 48 isu pada 1194 unggahan media sosial dengan persebaran terbanyak pada platform Facebook sejumlah 1176 unggahan.

Pemutusan akses dilakukan terhadap 1038 unggahan dan 156 unggahan lainnya sedang ditindaklanjuti.

"Jika dibandingkan dengan minggu lalu, maka di minggu ini pertambahan isu hoaks dan persebaran konten hoaks di sosial media tidak melebihi angka di minggu yang lalu," jelasnya.

Hoaks Sepekan Terakhir: Varian Delta India Tidak Ada hingga Vaksin Pfizer untuk Lacak Manusia

Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi mengatakan, saat ini muncul 16 isu seputar hoaks Covid-19 selama seminggu terakhir yang tersebar di media sosial.

Beberapa isu hoaks yang mengandung disinformasi menurut Dedy antara lain, hoaks yang menyebar pada 18 November 2021 mengenai CEO Pfizer ditangkap FBI karena penipuan dan pemalsuan data vaksin.

"Beberapa contoh hoaks yang perlu kita tangkal bersama," kata Dedy dalam siaran pers, Kamis (25/11/2021).

Kedua, hoaks pada tanggal 19 November 2021 tentang aliansi dokter dunia menyatakan bahwa varian Delta India tidak ada.

Baca juga: Kemenkes Jelaskan Alasan Pemerintah Kurangi Masa Karantina Pendatang dari Luar Negeri Jadi 3 Hari

Ketiga, kata Dedy, disinformasi pada tanggal 20 November 2021 yang menyatakan bahwa anggota parlemen Austria meninggal dunia karena vaksin Covid-19.

"Keempat, disinformasi pada tanggal 22 November 2021 mengenai klaim Pfizer digunakan untuk melacak manusia di seluruh dunia," ucapnya.

Lalu, hoaks pada tanggal 24 November 2021 mengenai detox mandi dengan ramuan soda kue, garam epsom, boraks dan tanah liat bentonit dapat menghilangkan kandungan vaksin Covid-19.

Dedy mengatakan, demikianlah sejumlah hoaks yang masih terus menyebar dan menjadi salah satu kendala penanganan Covid-19 di Indonesia.

"Seperti Covid-19 terus kita lawan, persebaran harus kita tangkal, bersama-sama kita jaga generasi muda untuk masa depan yang lebih baik terlindungi dari Covid-19 dan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dalam menghadapi hoaks dan tantangan dunia ke depan," jelasnya. (*)

Baca berita lainnya

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jubir Kominfo: Ancaman Hoaks dan Disinformasi Masih Membayangi Anak-anak di Indonesia; Kominfo: Facebook Masih Jadi Media Penyebaran Terbanyak Seputar Hoaks Covid-19; dan Hoaks Sepekan Terakhir: Varian Delta India Tidak Ada hingga Vaksin Pfizer untuk Lacak Manusia

Sumber: Tribunnews.com
Tags:
KPCPENKemenkominfoDedy PermadiHoaksVirus CoronaCovid-19FacebookKominfo
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved