Terkini Internasional
Akui Uji Coba Rudal Hipersonik China, Jenderal Top AS Sandingkan dengan Peluncuran Satelit Sputnik
Untuk pertama kalinya perwira tinggi militer AS mengkonfirmasi uji coba rudal hipersonik China dan menyebutnya sebagai perkembangan yang signifikan.
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Elfan Fajar Nugroho
Hipersonik, sebagaimana dikutip dari AFP, adalah penemuan baru dalam teknologi rudal, karena bisa terbang lebih rendah dan lebih sulit terdeteksi jika dibandingkan dengan rudal balistik.

Selain itu, hipersonik juga dapat mencapai target lebih cepat sehingga akan lebih berbahaya, terutama jika dipasangi hulu ledak nuklir.
Sebelumnya, China meluncurkan rudal jarak menengah hipersonik miliknya, DF-17, pada 2019.
Mereka mengatakan rudal tersebut dapat menempuh jarak sekitar 2 ribu kilometer dan bisa membawa hulu ledak nuklir.
Baca juga: Korea Selatan Kembangkan Rudal Setara Nuklir, Perkuat Pertahanan Hadapi Korea Utara
Baca juga: Iran Bantu Hamas Kembangkan Rudal Mematikan untuk Lawan Israel, Telah Berkembang selama 5 Tahun
Tetapi, rudal tersebut berbeda dengan yang dilaporkan oleh Financial Times baru-baru ini, karena memiliki jangkauan yang lebih jauh.
Rudal terbaru China itu diduga dapat diluncurkan ke orbit sebelum kembali ke atmosfer untuk mencapai targetnya.
“Kemampuan militer China jauh lebih besar dari itu,” kata Mark Milley, dikutip dari CNN, Kamis (28/10/2021).
"Mereka berkembang pesat di luar angkasa, di dunia maya dan kemudian di domain tradisional darat, laut, dan udara,” tambahnya.
"China sangat signifikan di cakrawala kami.”
Bantahan China atas peluncuran rudal hipersonik Agustus lalu, dinyatakan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian.
"Tes ini adalah eksperimen pesawat ruang angkasa rutin untuk memverifikasi teknologi pesawat ruang angkasa yang dapat digunakan kembali,” katanya.
“Ini dapat memberikan cara yang nyaman dan murah bagi manusia untuk menggunakan ruang angkasa secara damai. Banyak perusahaan di dunia telah melakukan eksperimen serupa.”
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin telah berulang kali menekankan bahwa China adalah tantangan bagi Pentagon, ketika Beijing berlomba untuk memodernisasi militernya.
Bahkan, pekan lalu, Direktur CIA Bill Burns mengatakan China adalah ancaman teknologi terbesar bagi AS.
"Saya pikir dalam hal kapasitas yang luas, di berbagai teknologi yang muncul, saya pikir China mungkin saat ini (ancaman terbesar)," kata Burns saat berbicara di Universitas Stanford.