Breaking News:

Terkini Internasional

China Rancang Undang-Undang Baru, Orangtua Bisa Dihukum Denda hingga Pidana jika Anak Nakal

China kembali rancang aturan baru terkait pengembangan anak, di mana orangtua berkemungkinan bisa dihukum atas kenakalan dan kejahatan anak mereka.

AFP/Nicolas Asfouri
China kembali rancang aturan baru terkait pengembangan anak, di mana orangtua berkemungkinan bisa dihukum atas kenakalan dan kejahatan anak mereka. 

TRIBUNWOW.COM – Parlemen China sedang mempertimbangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang dapat menghukum orangtua atas kejahatan atau pun perilaku sangat buruk dari anak-anak mereka.

Sebagian kesalahan anak-anak yang berperilaku buruk dapat dialihkan kepada orangtua dan wali mereka.

Dalam RUU Peningkatan Pendidikan Keluarga, orangtua akan ditegur dan diperintahkan menjalani program pembinaan keluarga, jika jaksa menemukan anak mereka memiliki perilaku yang sangat buruk atau pun melakukan tindak kriminal.

Ilustrasi sekolah di China. Kementerian Pendidikan China umumkan pembatasan pemberian ujian tertulis dan pekerjaan rumah bagi siswa pada Senin, (30/8/2021).
Ilustrasi sekolah di China. (YouTube/Al Jazeera English)

Baca juga: Viral Warga China Pakai Alat Nonaktifkan Speaker Jarak Jauh karena Takut Tegur Geng Nenek Penari

Baca juga: China Bayar Pasangan di Desa untuk Punya Banyak Anak, Langkah Hadapi Krisis Demografi

“Ada banyak alasan bagi remaja untuk berperilaku tidak baik, dan kurangnya atau pendidikan keluarga yang tidak tepat adalah penyebab utama,” kata Juru Bicara Komisi Urusan Legislatif di bawah Kongres Rakyat Nasional (NPC), Zang Tiewei, dikutip dari Reuters, Selasa (19/10/2021).

Rancangan tersebut juga akan mendorong orangtua untuk mengalokasikan waktu anak-anak mereka dalam beristirahat, bermain, dan berolahraga.

Dilansir dari USA Today, pihak berwenang China dapat menghukum para orangtua di bawah RUU tersebut, jika anak-anak mereka diketahui melakukan kejahatan ketika belum mencapai usia legal, yakni 16 tahun untuk sebagian besar pelanggaran.

Apabila gagal melaksanakan aturan sebagaimana tercantum dalam RUU Peningkatan Pendidikan Keluarga, para orangtua awalnya akan mendapatkan peringatan.

Jika masih ditemukan melanggar, maka akan dijatuhi denda 1.000 yuan atau hampir Rp 2,2 juta hingga pidana penjara selama maksimal lima hari.

Penentuan hukuman akan didasarkan pada tingkat keparahan pelanggaran.

RUU tersebut bertujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan keterampilan mengasuh anak, moralitas, dan nilai-nilai inti sosialisme di seluruh negeri.

Itu karena dalam rancangan tersebut juga memberi tahu keluarga untuk berlaku hemat serta mendorong kebiasaan belajar yang baik bagi anak-anak.

Kesehatan fisik dan mental anak menjadi hal yang harus diperhatikan oleh orangtua.

Komite Tetap NPC akan meninjau RUU tersebut pada minggu ini.

Beberapa kali, China di bawah pemerintahan Xi Jinping, memang sempat memberlakukan kebijakan yang tak biasa dalam mengatur perkembangan anak.

Baca juga: Media Partai Komunis Minta China Atur Iklan Operasi Kecantikan yang Klaim Bisa Ubah Nasib

Baca juga: Dianggap Merusak Pemandangan, China Habiskan Rp 342 Miliar untuk Pindahkan Patung Raksasa

Pada Agustus lalu, Kementerian Pendidikan mengumumkan anak-anak di bawah usia 18 tahun, tidak dapat bermain video gim lebih dari tiga jam dalam seminggu, membatasi jam bermain gim nasional menjadi hanya satu jam setiap malam pada Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional.

Aturan baru itu semakin memperketat pembatasan jam bermain gim yang sebelumnya ditetapkan pada 2019, yang memperbolehkan anak di bawah umur bermain gim selama satu setengah jam dalam sehari dan tiga jam pada hari libur nasional.

China juga secara resmi mengubah kebijakan dua anak dan mengizinkan pasangan menikah memiliki tiga anak pada Juni lalu.

Pemerintah mengumumkan perubahan kebijakan itu hanya beberapa minggu setelah sensus 2020 diterbitkan, di mana menunjukkan populasi China tumbuh pada tingkat paling lambat dalam beberapa dekade.

Di sisi lain, China juga melarang diselenggarakannya les setelah sekolah untuk mata pelajaran utama selama akhir pekan dan hari libur serta mengurangi pekerjaan rumah siswa.

Itu dilakukan karena pemerintah mengkhawatirkan adanya beban akademik yang terlalu berat, hingga bisa membuat anak-anak kewalahan.

Bahkan, pria muda di China didesak untuk menjadi lebih jantan melalui “Usulan untuk Mencegah Feminisasi Remaja Laki-Laki” yang dikeluarkan pada Desember lalu.

Kementerian Pendidikan mendesak sekolah untuk mempromosikan olahraga di kampus seperti sepak bola. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait China lain

ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved