Breaking News:

Terkini Daerah

Kejanggalan Visum Mandiri 3 Anak yang Diduga Dicabuli Ayahnya, Kemungkinan Bukan Luka Lama

Mabes Polri kembali buka suara soal pengusutan kasus dugaan ayah merudapaksa 3 anak kandungnya di Luwu Timur.

Kolase: Twitter/ Capture Projectmultatuli.org
Trending Twitter 7 Oktober 2021 dan screenshot posting-an 'Tiga Anak Saya Diperkosa'. 

TRIBUNWOW.COM - Hasil visum yang dilakukan oleh pihak kepolisian menunjukkan tiga anak di Luwu Timur, Sulawesi Selatan tidak mengalami luka bekas kekerasan seksual sebagaimana pengakuan ibu korban.

Kasus yang terjadi di tahun 2019 ini viral di tahun 2021 setelah ibu korban kembali bersuara di media sosial soal suaminya yang diduga merudapaksa 3 anak mereka.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan menegaskan hasil visum yang berbeda hanya muncul di visum mandiri yang dilakukan oleh ibu korban.

Baca juga: Sama-sama ASN, Begini Nasib Terlapor dan Pelapor Kasus Rudapaksa Anak di Luwu Timur, Ibu Korban Cuti

Baca juga: Di Mata Najwa, Kuasa Hukum Sebut 3 Anak Korban Kekerasan Seksual di Luwu Timur Akui Perbuatan Ayah

Dikutip TribunWow.com dari WARTAKOTAlive.com, Kombes Ahmad mengatakan, tidak ada luka di alat vital ketiga korban ketika polisi dua kali melakukan visum di puskesmas dan di RS Bhayangkara.

Kombes Ramadhan mengatakan terdapat rentang waktu hampir dua minggu antara visum dari polisi dan visum mandiri.

"Jadi tidak ada perbedaan hasil visum. Ada perbedaan tapi perbedaan rekam medis atau pemeriksaan medis yang dilakukan Mandiri oleh ibu korban. Tapi pemeriksaannya pada tanggal 31 Oktober 2019. Jadi 2 pemeriksaan yang berbeda waktunya antara tanggal 9 dan 31 Oktober," kata Kombes Ramadhan kepada wartawan, Kamis (14/10/2021).

Kombes Ramadhan menjelaskan, luka dari visum mandiri kemungkinan terjadi setelah visum pertama dan kedua alias luka baru.

"Maaf ya saya mencontohkan kalau misalkan tangan saya tidak luka, saya diperiksa kan tidak luka. Kemudian tiga hari kemudian saya kena pisau maka ketika saya luka saya diperiksa hasilnya luka karena tanggalnya berbeda. jadi saya ulangi tidak ada perbedaan visum karena itu harus dilakukan di waktu yang sama," paparnya.

"Kalau ada seorang luka diperiksa tanggal 9 kemudian diperiksa di tempat lain harus tanggalnya sama. Kalau dia waktunya sudah dua minggu apalagi 3 minggu bisa terjadi perbedaan," sambungnya.

Kombes Ramadhan menyampaikan, sampai saat ini kasus ini masih terus diselidiki polisi.

2 Kali Visum, Polda Sulsel Tak Temukan Luka

Sementara itu, Polda Sulawesi Selatan saat ini kembali menegaskan bahwa memang tidak ada bukti yang menunjukkan jika terduga pelaku melakukan tindakan rudapaksa terhadap anak-anaknya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan, Kombes E Zulpan di acara Sapa Indonesia Malam Kompas TV.

Dikutip dari YouTube Kompastv, Sabtu (9/10/2021), Kombes Zulpan mengiyakan jika RS selaku ibu para terduga korban melapor ke Polres Luwu Timur pada Oktober 2019 lalu.

Saat itu RS melaporkan suaminya sendiri SA atas dugaan pencabulan.

Kombes Zulpan menjelaskan, selanjutnya dilakukan visum terhadap ketiga terduga korban.

Hasilnya tidak ada satu pun yang mengalami tindak kekerasan seksual.

"Pencabulan pun di dalam visum et repertum yang telah dilakukan dua kali, ini tidak membuktikan," tegas Kombes Zulpan.

Kombes Zulpan memaparkan, visum pertama dilakukan di Puskesmas

"Hasil dari pada visum yang mana juga didampingi oleh ibu korban," katanya.

Halaman
12
Sumber: TribunWow.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved