Breaking News:

Virus Corona

Waspada saat Isolasi Mandiri, Studi Tunjukkan Covid-19 Bisa Picu Sindrom Langka Guillain-Barre

Mereka menjelaskan jika GBS adalah gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang saraf.

YouTube/ABC News (Australia)
Suasana rumah sakit di Filipina yang penuh karena lonjakan kasus Covid-19,(1/9/2021). Peneliti di Oxford sebut ada Covid-19 bisa memicu sindrom Guillain-Barre. 

TRIBUNWOW.COM - Sebuah studi baru yang dipublikasi di jurnal Brain dan diterbitkan oleh Oxford University Press, menunjukkan bahwa infeksi Covid-19 dapat memicu sindrom Guillain-Barre (GBS).

Mereka menjelaskan jika GBS adalah gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang saraf.

Sindrom tersebut bisa menyebabkan kelemahan otot dan kadang-kadang kelumpuhan.

Baca juga: Jenis Kadar Protein Ini Disebut Berpengaruh Terhadap Tingkat Keparahan Covid-19, Simak Penjelasannya

Baca juga: Kenali Apa Itu Sepis, Bisa Terjadi saat Isolasi Mandiri dan Jadi Masalah Serius pada Pasien Covid-19

Penyakit ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga beberapa tahun.

Dilansir dari News Wise, dijelaskan jika penyakit ini relatif jarang, tercatat di Amerika Serikat sekitar 3.000 hingga 6.000 orang mengalami kondisi  ini setiap tahun. 

Disebutkan juga beberapa yang mengalami sindrome tersebut bisa mengalami sakit parah. 

Kondisi ini dipicu oleh infeksi bakteri atau virus akut, dan belakangan diketahui termasuk Virus Corona.

Sejak awal pandemi, dokter telah melaporkan lebih dari 90 diagnosis GBS yang diduga berkaitan dengan infeksi Covid-19.

Namun, apakah Covid-19 merupakan pemicu infeksi potensial lain atau apakah hanya kebetulan, saat itu belum bisa dipahami dengan baik. 

Menggunakan data secara internasional pasien GBS yang dihimpun oleh International GBS Outcome Study (atau IGOS), para peneliti mempelajari pasien dari 30 Januari hingga 30 Mei 2020.

Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Ini 2 Sebab Kematian Utama Pasien Covid-19 Anak Menurut Riset IDAI

Sekitar 49 pasien sindrom Guillain-Barre ditambahkan ke penelitian selama periode ini dari Cina, Denmark, Prancis, Yunani, Italia, Belanda, Spanyol, Swiss, dan Inggris Raya.

Dalam studi kohort ini, 22 persen pasien GBS yang termasuk selama 4 bulan pertama pandemi merupakan pasien Covid-19 yang baru sembuh.

Pasien-pasien ini berusia di atas 50 tahun dan pasien sering (65%) mengalami kelumpuhan wajah dan (64%) memiliki bentuk demielinasi GBS.

Demielinasi adalah suatu kondisi yang mengakibatkan kerusakan pada lapisan pelindung (selubung mielin) yang mengelilingi serabut saraf di otak, saraf optik, dan sumsum tulang belakang. S

aat masuk rumah sakit, 73 persen pasien GBS dengan infeksi Covid-19 mengalami peningkatan penanda inflamasi.

Semua pasien ini memenuhi kriteria diagnostik untuk GBS dan Covid-19.

Namun, para peneliti di sini menekankan bahwa mereka tidak menemukan lebih banyak pasien yang didiagnosis dengan sindrom Guillain-Barre selama empat bulan pertama pandemi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara infeksi Covid-19 dan GBS.

Tetapi, penelitian juga menyebut infeksi Covid-19 bisa memicu pasien atau penyintas  akan memicu GBS.

Meskipun kemungkinan itu berada di angka yang rendah. 

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved