Breaking News:

Virus Corona

Bukan Hanya Kelelahan, Kabut Otak Juga Bisa Terjadi selepas Isolasi Mandiri Covid-19, Ini Tandanya

Kabut Otak telah menjadi gejala yang tercatat di situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gejala long Covid

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Mohamad Yoenus
BBC
Konsultan neurologis Arvind Chandratheva menunjuk bagian otak yang rusak akibat Virus Corona. sekitar 20 persen penyintas Covid-19 dikabarkan mengalami kabut otak. 

TRIBUNWOW.COM - Kabut Otak telah menjadi gejala yang tercatat di situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai gejala long Covid

Itu artinya gejala kabut otak bisa muncul ketika masa isolasi mandiri, atau menjadi gejala baru selepas isolasi mandiri, dan bisa bertahan hingga lebih dari empat minggu.

Jika dilansir dari situs Hackensack Meridian Health, dijelaskan jika kabut otak, dalam sebuah studi pernah tercatat dialami oleh sekitar 20 persen penyintas Covid-19.  

Baca juga: Selain Jaga Imun saat Isolasi Mandiri Covid-19, 7 Vitamin Ini juga Bisa Kurangi Risiko Depresi

Baca juga: Gejala Berkepanjangan setelah Isolasi Mandiri, Long Covid Diduga karena Masalah Autoantibodi

Mereka yang mengalami gejala tersebut dengan presisten akan sangat mungkin kesulitan melakukan tugas harian yang biasanya dikerjakan. 

Direktur Medis Program Rehabilitasi Pasca-Covid di Institut Rehabilitasi JFK Johnson, Talya Fleming, M.D, menyampaikan jika kabut otak bukanlah nama penyakit. 

"Kabut otak mengacu pada masalah dengan pemikiran, ingatan, dan konsentrasi, tetapi bagi banyak pasien, hal ini sulit untuk dijelaskan," jelasnya.

Dia menjelaskan jika biasanya, pasien yang mengalami kabut otak tidak akan menyadari dirinya bermasalah. 

Karena gejala kabut otak biasa dirasakan ketika sedang kelelahan, stres, atau ketika kurang tidur. 

Dalam kasus Covid-19, bedanya adalah pasien bisa mengalami masalah ini hingga berkepanjangan.

“Pasien sering mengatakan bahwa mereka merasa tidak enak badan,” jelasnya.

Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Studi Ini Ungkap Kaitan Obesitas dengan Keparahan Infeksi Covid-19

"Kami menggunakan istilah 'kabut' karena pasien merasa ada sesuatu yang mengganggu mereka yang membuat segalanya tidak sejelas atau sejelas sebelumnya."

“Saya pernah mendengar pasien mengatakan mereka memiliki masalah dengan ingatan, mudah terganggu, mengalami kesulitan mengikuti percakapan, dan sulit berkonsentrasi dan mengerjakan tugas sehari-hari.”

Dia menjelaskan ada beberapa dugaan yang bisa menjadi penyebab terjadinya kabut otak, seperti:

1. Kekurangan oksigen yang disebabkan oleh kerusakan paru-paru

2. Peradangan yang mempengaruhi sel-sel otak

Halaman
123
Tags:
isolasi mandiriKabut OtakCovidWHO
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved