Breaking News:

Virus Corona

Rangkaian Acara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 Ditutup, Jepang Catat 878 Infeksi Covid-19

Jepang mencatat ada 878 kasus selama pelaksanaan Olimpiade dan Paralimpiade Musim Panas Tokyo 2020 bersamaan dengan ditutupnya Desa Atlet Olimpiade.

Tayang:
Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Tiffany Marantika Dewi
YouTube/Nippon TV News 24 Japan
Simbol Agitos Paralimpiade Musim Panas Tokyo 2020 dalam proses pencabutan setelah rangkaian acara ditutup pada Senin (6/9/2021).Jepang mencatat ada 878 kasus selama pelaksanaan Olimpiade dan Paralimpiade Musim Panas Tokyo 2020 pada Rabu (8/9/2021). 

TRIBUNWOW.COM – Rangkaian acara Paralimpiade Musim Panas 2020 di Tokyo ditutup pada Minggu (5/9/2021) dan membuat Jepang mencatatkan total 878 kasus infeksi Covid-19 sejak 1 Juli.

Jumlah itu merupakan gabungan dari kasus Covid-19 yang dikonfirmasi selama pelaksanaan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo.

Dilansir dari Mainichi, panitia penyelenggara mengumumkan jumlah itu bersamaan dengan penutupan Desa Atlet Olimpiade secara resmi pada Rabu (8/9/2021).

Desa Atlet Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020.
Desa Atlet Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020. (YouTube/Nippon TV News 24 Japan)

Baca juga: Kasus Pertama Varian Terbaru Covid-19 Mu Ditemukan di 2 Bandara Jepang

Baca juga: Dianggap Langgar Protokol Kesehatan Covid-19, Jepang Kecam Pengadaan Konser Namimonogatari2021

Diketahui sebanyak 323 infeksi virus Covid-19 tercatat selama Paralimpiade Tokyo.

Hanya 17 kasus terjadi di antara penduduk Desa Atlet Olimpiade yang terhubung dengan pertandingan untuk atlet penyandang disabilitas itu.

Empat kasus terakhir dilaporkan pada Rabu (8/9/2021).

Sementara, sebanyak 236 infeksi lain terjadi di antara penduduk Jepang dengan staf yang mengurusi jalannya pelaksanaan rangkaian Paralimpiade.

Para atlet menyumbang 13 infeksi, pelatih dan tim pertandingan lainnya 54 orang dan staf media 18 kasus.

Kemudian anggota panitia penyelenggara mencatatkan 14 kasus, relawan 11 orang, dan staf luar negeri di tempat pelatihan pra-pertandingan menyumbang tujuh kasus infeksi Covid-19.

Desa Olimpiade adalah kompleks perumahan di distrik Harumi di tepi teluk Tokyo.

Desa itu akan diubah menjadi 5.632 unit untuk dijual atau disewa dengan penghuni pertama akan masuk pada Maret 2024.

Selama berjalannya Olimpiade dan Paralimpiade, pujian didapatkan Jepang terkait fasilitas kafetaria, kebersihan dan salon kecantikan.

Menteri Olimpiade Paralimpiade Jepang, Tamayo Marukawa menyebut makanan sebagai alat utama untuk menyampaikan budaya Jepang.

Di sisi lain, beberapa atlet Olimpiade diketahui melanggar aturan pembatasan virus Covid-19 dengan meninggalkan desa untuk jalan-jalan.

Baca juga: Sempat Ditunda 2 Tahun, Pernikahan Puteri Mako akan Digelar Tahun Ini Tanpa Ritual Adat Jepang

Baca juga: Kasus Pertama Varian Terbaru Covid-19 Mu Ditemukan di 2 Bandara Jepang

Sebelum dilakukan penutupan resmi Desa Atlet Olimpiade, Jepang telah mencabut simbol "agitos" Paralimpiade dari Teluk Tokyo sehari setelah pertandingan itu ditutup di Stadion Nasional pada Senin (6/9/2021).

Hal itu menandakan berakhirnya penyelenggaraan pertandingan yang diadakan di ibu kota Jepang.

Simbol Paralimpiade sudah ada di Taman Laut Odaiba sejak sebelum acara olahraga global 13 hari itu dimulai.

Sekitar pukul 10.30 waktu setempat, kapal tongkang yang membawa instalasi seberat 94 ton dengan panjang 23,4 meter dan tinggi 17,5 meter itu ditarik dengan kapal menuju Yokohama, tempat pembuatannya.

Bahan-bahan instalasi simbol Paralimpiade itu akan didaur ulang.

Simbol Paralimpiade agitos diperkenalkan ke publik menjelang dimulainya acara pada 24 Agustus.

"Meskipun ada banyak pendapat yang menentang (pelaksanaan pertandingan), saya tertarik melihat upaya para atlet. Saya akan merindukan olimpiade itu sekarang setelah selesai," kata Yasumoto Takei yang menyaksikan proses pencabutan agitos.

Para atlet dan timnya dari luar negeri juga sudah meninggalkan Desa Atlet Olimpiade sejak Senin lalu untuk pulang ke negaranya masing-masing.

"Saya merasa sedikit sedih (tapi) sekaligus lega karena saya tidak akan dapat melihat pemandangan ini lagi,” kata seorang wanita berusia 44 tahun yang tinggal di dekat Desa Atlet Olimpiade.

Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo diadakan setelah penundaan satu tahun karena krisis kesehatan global.

Hal itu juga memaksa penyelenggara untuk melarang penonton di sebagian besar tempat pelaksanaan pertandingan. (TribunWow.com/Alma Dyani P)

Berita terkait Jepang lain

Sumber: TribunWow.com
Tags:
OlimpiadeTokyoJepangCovid-19Virus CoronaParalimpiade
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved