Virus Corona
Cium Bau Ban Terbakar pada Makanan, Kenali Gejala Parosmia setelah Isolasi Mandiri Covid-19
Parosmia ditandai dengan mencium aroma berbeda dari seharusnya, seperti mencium bau ban terbakar atau bau busuk ketika menghirup aroma makanan.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Parosmia atau distorsi pada indera penciuman juga bisa terjadi pada pasien Covid-19 dan biasanya terjadi setelah mereka mengalami anosmia atau kehilangan indera peciuman.
Parosmia ditandai dengan mencium aroma berbeda dari seharusnya, seperti mencium bau ban terbakar atau bau busuk ketika menghirup aroma makanan.
Karena bau dan rasa sangat terkait erat, parosmia juga dapat berdampak negatif pada rasa dan makan.
Baca juga: Kenali Risiko Terparah Covid-19 pada Lansia yang Telah Divaksin, Aman untuk Isolasi Mandiri?
Baca juga: Waspada saat Isolasi Mandiri, Kenali Penyebab Perburukan Kondisi Tiba-tiba pada Pasien Covid-19
Bagi seseorang dengan parosmia, makanan yang sebelumnya menggugah selera bisa menjadi tidak enak.
Dilansir dari Healthline, dijelaskan ada beberapa efek yang biasanya terjadi pada orang yang mengalami parosmia seperti tidak nafsu makan, berat badan berkurang, hingga depresi.
Parosmia juga dapat mempengaruhi kehidupan seseorang dengan cara lain.
Misalnya, beberapa pekerjaan mungkin sulit dilakukan, terutama jika aroma itu penting.
Misalnya pekerjaan yang mungkin terpengaruh termasuk koki, toko bunga, dan petugas pemadam kebakaran.
Ada juga peningkatan risiko tidak memperhatikan bahaya di rumah, seperti tidak bisa mencium bau makanan yang terbakar, asap, atau gas.
Pada pasien Covid-19 gejala parosmia banyak dilaporkan dengan mencium bau berbeda-beda, seperti:
1. Limbah atau sampah
2. Daging atau telur busuk
3. Berasap atau terbakar
4. Bensin
5. Amonia atau cuka
6. Kaus kaki berjamur
Siapa yang Berisiko?
Orang yang paling banyak mengalami parosmia adalah orang yang mengalami anosmia atau kehilangan indera penciuman ketika terinfeksi Covid-19.
Bahkan parosmia banyak dikaitkan merupakan proses lanjutan dari anosmia.
Dalam banyak kasus, penderita parosmia juga mengalami kehilangan indra penciuman dan perasa saat sakit Covid-19.
Usia dan jenis kelamin juga bisa menjadi faktor.
Satu studi yang melibatkan 268 orang dengan parosmia setelah Covid-19 menemukan bahwa 70,1 persen dari mereka berusia 30 atau lebih muda, dan 73,5 persen adalah perempuan.
Para peneliti masih berusaha menentukan seberapa umum sebenarnya parosmia setelah Covid-19.
Satu survei Juni 2021, menemukan bahwa dari 1.299 responden survei, 140 di antaranya (10,8 persen) melaporkan mengalami parosmia setelah Covid-19.
Studi yang sama menemukan bahwa setengah dari orang-orang ini melaporkan serangan parosmia yang tiba-tiba, sementara setengah lainnya melaporkan serangan bertahap.
Selain itu, ada lima jenis makanan yang bisa meningkatkan risiko pasien mengalami parosmia, yaitu:
Ayam, daging, bawang, telur, bawang putih, dan nasi.
Kabat baiknya, kebanyakan pasien akan pulih dengan sendirinya ketika mengalami parosmia.
Hal yang menjadi kekhawatiran adalah masalah waktu pemulihan dari parosmia.
Misalnya, dalam studi survei yang dicakup di atas, 49,3 persen orang melaporkan bahwa parosmia mereka membaik dalam 3 bulan.
Sisanya 50,7 persen mengatakan parosmia mereka berlangsung lebih dari 3 bulan.
Kemudian, sebuah studi terbaru pada Mei 2021 menemukan bahwa peserta melaporkan parosmia yang berlangsung antara 9 hari dan 6 bulan.
Tetapi durasi rata-rata parosmia pada penyintas Covid-19 adalah 3 hingga 4 bulan.
Sama seperti gejala anosmia pada pasien Covid-19, gejala parosmia juga belum bisa dipahami dengan baik.
Terlebih terkait waktu pemulihan yang beragam dan beberapa bisa lebih dari enam bulan.
Sementara beberapa masalah dengan indera penciuman bisa jadi dari efek peradangan di atap hidung, itu tidak menjelaskan masalah yang lebih persisten dan berlama-lama dengan bau seperti parosmia.
Ada kemungkinan infeksi Virus Corona merusak reseptor dan saraf yang terlibat dengan indera penciuman kita.
Meskipun kerusakan ini sering kali dapat diperbaiki dari waktu ke waktu, hal itu dapat menyebabkan beberapa gangguan dalam cara kita merasakan bau.
Diperkirakan manusia memiliki 350 jenis reseptor bau dan otak mengidentifikasi bau individu berdasarkan kombinasi sinyal yang berbeda dari reseptor ini.
Perbaikan sistem yang kompleks ini dapat terjadi dalam proses coba-coba, yang dapat menghasilkan indera penciuman yang terdistorsi. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/ilustrasi-anosmia.jpg)