Tanya Jawab Kesehatan
Ini Tips Puasa Aman bagi Penderita Penyakit Kronis Menurut Saran Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, penderita penyakit kronis bisa puasa tapi tetap harus jaga pola makan dan konsultasi rutin sebelum berpuasa.
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
TRIBUNWOW.COM - Sebagian penderita penyakit kronis sebenarnya tetap bisa berpuasa dengan aman, asalkan kondisinya sudah terkendali dan dipersiapkan dengan baik sesuai anjuran dokter.
Tekanan darah yang stabil di bawah 140/90 dengan pengaturan makan dan obat menjadi satu di antara tanda bahwa kondisi hipertensi cukup terkontrol untuk berpuasa.
Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang stabil ditandai dengan HbA1c di bawah 7, gula darah puasa di bawah 126, serta gula darah dua jam setelah makan di bawah 140–200.
Kondisi tersebut dapat dicapai melalui pola makan, olahraga, dan penggunaan obat yang teratur sehingga menunjukkan kontrol yang baik.
Dalam kondisi seperti ini, ibadah puasa masih dapat dijalankan dengan lebih aman dan minim risiko.
Baca juga: Cek Ciri-ciri Penyakit Kronis dan Tips Aman Berpuasa di Bulan Ramadhan menurut Dokter Spesialis
Meski begitu, edukasi tetap penting karena istilah medis dan angka-angka tersebut bisa terasa rumit bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan pengelolaan penyakit kronis.
Pertanyaan:
Langkah persiapan apa saja yang perlu dilakukan agar penderita penyakit kronis bisa berpuasa dengan aman?
Begini jawaban Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD Bung Karno, dr. Achmadi, SP.PD, FINASIM dalam podcast kesehatan "Healthy Talk" dalam kanal YouTube Tribunnews.com.
Jawaban:
Persiapan utama agar penderita penyakit kronis bisa berpuasa dengan aman adalah memastikan dulu bahwa penyakitnya dalam kondisi terkontrol.
Pada hipertensi, misalnya, tekanan darah sebaiknya sudah stabil di bawah 140/90 lewat pengaturan makan dan penggunaan obat yang teratur.
Pada diabetes, kontrol yang baik terlihat dari kadar HbA1c yang berada di bawah angka 7.
Selain itu, gula darah puasa idealnya di bawah 126, sedangkan gula darah 2 jam setelah makan dan gula darah sewaktu berada dalam rentang yang dianjurkan oleh dokter.
Kondisi yang stabil seperti ini menunjukkan bahwa tubuh lebih siap menghadapi perubahan pola makan saat puasa.