Breaking News:

Konflik di Afghanistan

Tak Dievakuasi Jepang, Sejumlah Penduduk Afghanistan Ungkap Kekesalan: Saya Sangat Kecewa

Penduduk lokal Afghanistan yang pernah bekerja untuk Jepang marah setelah tak masuk dalam daftar evakuasi warga di Bandara Kabul.

Penulis: Alma Dyani Putri
Editor: Lailatun Niqmah
YouTube/BBC News
Evakuasi militer Amerika Serikat di bandara Kabul. AS telah resmi menarik seluruh pasukannya dari Amerika Serikat pada Senin, (30/8/2021). Beberapa warga lokal Afghanistan merasa marah karena gagal dipulangkan oleh Jepang. 

TRIBUNWOW.COM – Beberapa penduduk Afghanistan yang telah bekerja untuk Jepang merasa marah dan putus asa karena tertinggal dari penerbangan Jepang setelah Amerika Serikat (AS) menarik pasukan militernya dari Kabul pada Selasa (31/8/2021).

Dikutip TribunWow.com dari Kyodo, pasukan Jepang hanya mengevakuasi satu orang Jepang dan 14 warga Afghanistan atas permintaan AS sehingga banyak orang tidak bisa meninggalkan negara itu.

Satu di antara warga Afghanistan yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan telah terlibat dalam kegiatan bantuan Jepang selama bertahun-tahun.

Situasi di luar Bandara Kabul terlihat sepi, Taliban dengan kendaraan Amerika Serikat menghalangi orang-orang mendekat pada Kamis, (28/8/2021).
Situasi di luar Bandara Kabul terlihat sepi, Taliban dengan kendaraan Amerika Serikat menghalangi orang-orang mendekat pada Kamis, (28/8/2021). (YouTube/BBC)

Baca juga: Taliban Segera Umumkan Mullah Baradar sebagai Pemimpin Baru Afghanistan, Ini Sosoknya

Baca juga: Pesawat Militer dengan Pengungsi dari Afghanistan Tiba di Korea Selatan di Tengah Amandemen UU

Pria itu menjadi salah satu dari sekitar 500 warga Afghanistan yang bekerja sebagai staf lokal Kedutaan Besar Jepang dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang.

Saat ini, dia merasa putus asa dan terus mengunci pintu kamarnya ketika tidur, karena takut akan keselamatannya di bawah ancaman pemerintahan Taliban.

Pada 26 Agustus lalu, dia berencana untuk pergi dari Afghanistan dan menaiki bus di Kabul menuju Bandara Internasional Hamid Karzai.

Tetapi ISIS-K menembakkan roket ke bandara pada hari itu dan penerbangan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) yang seharusnya dia ambil terpaksa dibatalkan.

"Saya tahu itu tidak bisa dihindari tetapi saya kesal," ungkapnya.

Pemerintah Jepang memintanya untuk menunggu kabar selanjutnya terkait kemungkinan kepergiannya dari Afghanistan.

Namun, dia tidak pernah menerima pemberitahuan apapun sejak pesawat SDF meninggalkan Kabul.

"Jika saya tidak bisa pergi, mereka seharusnya memberi tahu saya," katanya menambahkan bahwa dia sekarang merasa terjebak.

Penduduk setempat lainnya yang juga tidak ingin disebutkan namanya, sempat bekerja di Kantor Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) di Kabul, Afghanistan.

Dia menjadi pihak yang bekerja untuk mengelola program bantuan resmi Jepang di negara itu.

Baca juga: Taliban Klaim Kuasai Panjshir, Lepaskan Tembakan dan Tewaskan 17 Orang, Oposisi Bakal Tetap Melawan

Baca juga: Qatar Desak Taliban Tepati Janji, Harapkan Segera Bisa Buka Bandara Kabul agar Warga Bisa Pergi

Dia sempat meminta kepada staf Kedutaan Besar Jepang untuk memasukkan namanya ke dalam daftar orang yang akan dievakuasi oleh pemerintah Jepang, tetapi ditolak.

"Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan ini,” ungkap pria itu mengulang perkataan staf kedutaan Besar Jepang.

Halaman
12
Tags:
JepangKonflik di AfghanistanAfghanistanTaliban
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved