Virus Corona
Berapa Lama Antibodi pada Penyintas Covid-19 Bisa Bertahan? Simak Keterangan Ahli
Pasien Covid-19 yang telah sembuh atau selesai menjalani isolasi mandiri akan memiliki antibodi atau kekebalan alami terhadap Covid-19.
Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Pasien Covid-19 yang telah sembuh atau selesai menjalani isolasi mandiri akan memiliki antibodi atau kekebalan alami terhadap Covid-19.
Tetapi antibodi tersebut tidak akan bertahan lama dan mereka tetap dianjurkan untuk mendapat vaksin Covid-19.
"Kekebalan alami pada awalnya kuat, tetapi kemungkinan tidak akan bertahan selamanya," kata mantan kepala FDA, Dr. Scott Gottlieb, Rabu (1/9/2021), dikutip dari CNBC.
Baca juga: Penyintas Covid-19 Berisiko Tinggi, Hindari 10 Kebiasaan yang Bisa Membahayakan Ginjal saat Isoman
Baca juga: Covid-19 Bisa Picu Masalah Ginjal, Bantu Cegah dengan Konsumsi 6 Hal Ini saat Isolasi Mandiri
"Pada titik tertentu, orang-orang itu perlu divaksinasi," katanya
Penyintas Covid-19 bisa memiliki antibodi yang barik karena sistem imun sudah terbiasa terhadap kehadiran Virus Corona yang menyebabkan infeksi Covid-19.
Karena itu, ketika virus datang kembali, sistem imun sudah siap dan punya alat untuk melawannya.
The National Institutes of Health menjelaskan, jika sel kekebalan dan protein yang beredar di dalam tubuh dapat mengenali dan membunuh patogen jika ditemui lagi, melindungi terhadap penyakit dan mengurangi keparahan penyakit.
Hingga kini, kasus penyintas Covid-19 yang kembali terinfeksi Covid-19 dalam waktu dekat cukup jarang ditemui.
Komponen perlindungan kekebalan yang terdapat dalam sistem imun meliputi:
Baca juga: Sakit Kepala Terus-menerus saat Isolasi Mandiri Covid-19, Ini Penyebab dan Cara Meredakannya
Antibodi, yaitu protein yang beredar dalam darah dan mengenali zat asing seperti virus, dan menetralisirnya.
Sel T pembantu membantu mengenali patogen.
Sel T pembunuh membunuh patogen.
Sel B membuat antibodi baru ketika tubuh membutuhkannya.
Tetai komponen tersebut dikatakan tidak akan berlangsung lama.
"Kekebalan yang diberikan oleh infeksi alami tampaknya kuat dan tampaknya tahan lama. Kami tahu itu berlangsung setidaknya enam bulan, mungkin lebih lama," jelasnya.
"Firasat saya adalah itu tidak akan bertahan selamanya. Pada titik tertentu, orang-orang itu perlu divaksinasi," tambah Gottlieb, yang sekarang menjabat di dewan pembuat vaksin Pfizer.
Selain itu, yang belum dipastikan adalah bagaimana kondisi penyintas Covid-19 jika kembali mengalami reinfeksi.
Belum diketahui secara pasti apakah antibodi alami juga bisa mengurangi keparahan penyakit ketika terinfeksi.
Dan apakah orang yang tidak mengalami gejala dan orang yang sakit parah akibat Covid-19 akan sama bentuk perlindungannya.
"Dengan SARS dan MERS, kami melihat orang yang lebih sakit akhirnya memiliki kekebalan yang lebih tahan lama," ujarnya.
"Kami tidak tahu apakah itu sama terhadap kasus virus SARS-CoV-2, tetapi mungkin saja sama," kata Gottlieb.
Dalam data WHO, SARS pertama kali terdeteksi pada tahun 2003, sedangkan MERS awalnya dilaporkan pada tahun 2012.
Wabah SARS dan MERS hampir tidak seluas SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid.
Amerika Serikat sendiri hanya mengalami sedikit kasus SARS dan MERS.
Meski keduanya dikatakan lebih mematikan, kedua wabah itu hanya menyebabkan jumlah kematian yang terbatas jika dibandingkan dengan Covid.
Dalam penelitian di Israel, yang belum ditinjau, dikatakan jika infeksi alami justru memberikan perlindungan yang lebih tahan lama dan lebih kuat terhadap varian Delta dibanding vaksin Covid-19 dua dosis Pfizer.
Sebaliknya, sebuah penelitian di Inggris, sampai pada kesimpulan yang berbeda.
"Efektivitas dua dosis tetap setidaknya sama besarnya dengan perlindungan yang diberikan oleh infeksi alami sebelumnya," tulis para peneliti.
Tidak seperti di koran Israel, peserta dalam penelitian ini termasuk penerima vaksin dua dosis AstraZeneca dan Moderna, selain Pfizer.
"Saya pikir, jika meihat keduanya, berarti tidak ada kejelasan apakah kekebalan yang diinduksi vaksin lebih baik, sedikit lebih baik, sedikit lebih buruk, daripada" kekebalan alami, kata Gottlieb.
Gottlieb mengakui bahwa data menunjukkan perlindungan vaksin juga menurun seiring waktu.
AS saat ini memberikan suntikan booster kepada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah untuk mengatasi hal itu.
Rencananya, akhir bulan ini, populasi yang lebih luas akan memenuhi syarat untuk dosis vaksin tambahan.
"Anda dapat membuat ulang vaksin. Anda tidak ingin mengulang infeksi," kata Gottlieb, yang memimpin FDA dari 2017 hingga 2019 dalam pemerintahan Trump.
"Untuk memperoleh kekebalan yang disebabkan oleh infeksi, Anda harus benar-benar mendapatkan infeksi yang merupakan sesuatu yang ingin kami coba hindari secara aktif, jadi mendapatkan vaksin memiliki banyak atribut elegan dalam hal itu."
Hampir 62% populasi AS telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid, sementara 52,4% divaksinasi penuh, menurut data yang dikumpulkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Pejabat kesehatan, politisi, dan pemimpin bisnis telah mendesak lebih banyak orang Amerika untuk menerima vaksin Covid.
Dia menduga beberapa orang Amerika yang tidak divaksinasi mungkin percaya bahwa infeksi Covid-18 mereka sebelumnya menawarkan perlindungan yang memadai terhadap penyakit tersebut.
Sehingga mereka tidak merasakan urgensi untuk mendapatkan vaksin.
Namun, menurutnya masyarakat harus meluaskan pandangannya.
Dia mengatakan jika orang yang telah terinfeksi dan kemudian divaksinasi memiliki perlindungan terbaik.
"Setidaknya dengan satu dosis, Anda mengembangkan kekebalan yang luas, sangat dalam, dan sangat tahan lama berdasarkan data yang telah kita lihat sejauh ini," jelasnya. (Tribunwow.com/Afzal Nur Iman)