Breaking News:

Virus Corona

Hasil Uji Klinis Sebut Plasma Konvalesen Tidak Efektif Cegah Keparahan Pasien Covid-19

Studi di Amerika Serikat menyatakan bahwa terapi plasma kovalesen tidak efektif untuk mencegah keparahan pada pasien Covid-19

Penulis: Afzal Nur Iman
Editor: Atri Wahyu Mukti
Grid.id/Hanna Vivaldi
Ilustrasi pembulu darah 

TRIBUNWOW.COM - Studi yang dilakukan National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat menyatakan bahwa terapi plasma konvalesen tidak efektif untuk mencegah keparahan pada pasien Covid-19.

Hasil temuan tersebut telah dipublikasikan di jurnal The New England Journal of Medicine.

Dilansir dari laman NIH pada Rabu (18/8/2021), uji coba dihentikan pada Februari 2021 karena kurangnya kemanjuran berdasarkan analisis sementara yang direncanakan.

Baca juga: Benarkah Badai Sitokin karena Covid-19 Bisa Terjadi setelah Lama Selesai Isoman? Simak Penjelasannya

Baca juga: Masalah Serius pada Pasien Covid-19 Anak-anak, Waspadai Gejala MIS-C yang Bisa Terjadi seusai Isoman

Disebutkan jika plasma konvalesen Covid-19 tidak mencegah perkembangan penyakit pada kelompok pasien rawat jalan Covid-19 yang berisiko tinggi, bila diberikan dalam minggu pertama gejala mereka.

“Kami berharap penggunaan plasma konvalesen Covid-19 akan mencapai setidaknya 10% pengurangan perkembangan penyakit pada kelompok ini, tetapi pengurangan yang kami amati justru kurang dari 2%,” kata Clifton Callaway, MD, Ph.D. yang merupakan peneliti utama dan profesor kedokteran darurat di University of Pittsburgh.

“Itu mengejutkan kami. Sebagai dokter, kami ingin ini membuat perbedaan besar dalam mengurangi penyakit parah dan ternyata tidak.”

Plasma penyembuhan Covid-19, juga dikenal sebagai 'plasma survivor' adalah plasma darah yang berasal dari pasien yang telah pulih dari Covid-19.

Tahun lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengeluarkan izi darurat untuk penggunaan plasma konvalesen pada pasien rawat inap dengan Covid19.

Para peneliti Covid-19 tetapi yang tidak sakit parah dan dapat dirawat sebagai pasien rawat jalan.

Baca juga: Bukan Asal Bergizi, Ini yang Perlu Dikonsumsi dan Dibatasi saat Isolasi Mandiri Covid-19 Menurut WHO

Tujuannya adalah untuk mencegah perkembangan penyakit Covid-19 yang parah.

Uji klinis yang dilakukan pada Agustus 2020 melibatkan pasien rawat jalan dewasadengan gejala Covid-19 ringan selama minggu pertama setelah terinfeksi.

Uji coba dilakukan oleh jaringan uji klinis SIREN, dan mendaftarkan lebih dari 500 peserta dari 48 unit gawat darurat di seluruh Amerika Serikat.

Para peserta rata-rata 54 tahun, dan sedikit lebih dari setengahnya adalah perempuan.

Peserta juga memiliki setidaknya satu faktor risiko untuk mengalami Covid-19 yang parah.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved