Konflik di Afghanistan
Redam Ketegangan di Afganistan, Taliban Beri Amnesti dan Desak Perempuan Bergabung ke Pemerintahan
Milisi Taliban yang kini menguasai pemerintahan di Afganistan, melakukan upaya untuk meredam kekacauan yang terjadi.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM- Milisi Taliban yang kini menguasai pemerintahan di Afganistan, melakukan upaya untuk meredam kekacauan yang terjadi.
Mereka mendeklarasikan amnesti dan mendesak perempuan untuk bergabung dengan jajaran pemerintahnya.
Diduga hal ini merupakan langkah untuk meredakan ketegangan di ibu kota yang sehari sebelumnya mengalami kekacauan di bandara.
Diketahui, ribuan orang mengerumuni bandara internasional Kabul, Afganistan dalam upaya putus asa untuk melarikan diri.

Dilansir Aljazeera.com, Selasa (17/8/2021), kelompok Taliban kembali berkuasa setelah selama 20 tahun berhasil diturunkan.
Dengan cepat, kelompok tersebut mengambil alih pemerintahan setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden memutuskan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.
Lantaran militer Afganistan masih belum memadai untuk melawan, akibatnya pemerintahan pimpinan Presiden Ashraf Gani pun runtuh.
Sementara sang presiden memutuskan kabur dari Afganistan dengan alasan menghindari pertumpahan darah.
Dua hari kemudian, Taliban mengumumkan amnesti untuk semua pejabat pemerintah dan mendesak mereka untuk kembali bekerja seperti semula.
"Amnesti massal telah dideklarasikan untuk semua, maka kalian harus memulai kehidupan rutin anda dengan penuh keyakinan," kata sebuah pernyataan dari Taliban.
Baca juga: Seusai Isoman Jadi Pelupa dan Sulit Konsentrasi, Ini Penyebab Pasien Covid-19 Bisa Alami Brain Fog
Lebih lanjut, Taliban yang sebelumnya membatasi hak-hak perempuan, kini jutru mendesak perempuan untuk bergabung dengan pemerintahnya.
Padahal pada pemerintahan sebelumnya, Taliban melarang perempuan untuk bekerja dan mengharuskan mereka menggunakan burqa.
Selain itu, Taliban di masa lalu juga tak segan memberlakukan hukuman kejam apabila ada yang melanggar aturan konservatif mereka.
Enamullah Samangani, anggota komisi budaya Taliban, menyatakan hal tersebut setelah pihaknya berhasil menduduki gedung pemerintahan.
"Emirat Islam tidak ingin perempuan menjadi korban," kata Samangani, menggunakan istilah militan untuk Afghanistan.