Terkini Daerah
Kurang Paham Bahaya Covid, Kades di Sragen Buat Ulah Hambat Penanganan Pandemi hingga Provokasi
Karena kurang paham bahaya Covid-19, kades di Sragen, Samto berkali-kali membuat ulah mulai dari provokasi hingga ngamuk karena hajatan dibubarkan.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
"Saya Samto bin Kliwon, selaku Kepala Desa Jenar, dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dengan ini memohon maaf sebesar-besarnya kepada pemerintah, khususnya pemerintah Kabupaten Sragen, beserta seluruh masyarakat Kabupaten Sragen," ucap Samto, Minggu (18/7/2021).
Samto menegaskan dirinya percaya akan keberadaan pandemi Covid-19.
"Saya memberikan klarifikasi, bahwa saya telah menyadari, dan percaya sepenuhnya bahwa Covid-19 itu benar-benar ada, dan sangat berbahaya sehingga harus kita perangi bersama," katanya.
Selain meminta maaf, Samto juga meminta agar masyarakat taat menjalankan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
"Jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi dan situasi yang telah saya sampaikan saat ini, maka saya selaku aparat pemerintah Desa, secara sadar dan sukarela, siap dituntut secara pidana, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku," pungkasnya.
Isi Baliho Provokatif
Dalam baliho provokatif yang dipasang Samto, nampak foto Samto berseragam dinas lengkap memakai masker di bagian kepala.
Di samping dan bawah foto Samto, terdapat kalimat provokatif sebagai berikut:
"IKI JAMAN REVORMASI
ISIH KEPENAK JAMAN P**
AYO PEJABAT
MIKIR NASIBE RAKYAT
PEJABAT SENG SENENG NGUBER UBER RAKYAT
KUI BA****
PEGAWAI SENG GOLEKI WONG DUWE GAWE
IKU KERE
PEGAWAI SING SIO KARO SENIMAN SENIWATI
KUWI BA*****"
Versi terjemahan:
"Ini jaman reformasi
Masih enak zaman P*I
Ayo pejabat
Mikir nasibnya rakyat
Pejabat yang senang ngejar-ngejar rakyat
Itu B****AT
Pegawai yang cari orang punya hajat
Itu miskin
Pegawai yang menyia-nyiakanseniman seniwati
Itu B*****AN"
Dikutip dari Kompas.com, Samto mengaku memasang baliho provokatif itu sebagai bentuk kekecewaan banyak warganya dilarang menggelar hajatan di tengah pandemi Covid-19.
"Baliho saya pasang karena banyak warga saya menggelar hajatan selalu dibubarkan dan dilarang," kata Samto dihubungi Kompas.com, Kamis (15/7/2021).
Samto berpendapat, pembubaran hajatan bukanlah solusi baik.
"Jadi, saya kecewa berat. Ada warga menggelar hajatan tinggal dua hari dibatalkan. Kan kasihan," ungkap dia.