Terkini Daerah
Kades di Sragen Pasang Baliho Maki Pemerintah, Ternyata Dibenci Banyak Warga: Biar Dipecat
Memasang baliho provokatif berisi makian dan umpatan, seorang Kades di Sragen mengaku bertindak demi membela rakyat kecil.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Seorang kepala desa di Sragen, Jawa Tengah membuat geger penduduk setempat karena memasang sebuah baliho yang berisi kalimat provokasi dan makian terhadap pemerintah.
Pria tersebut adalah Kepala Desa Kecamatan Jenar, Sragen, Samto yang memasang sebuah baliho setinggi 2x3 meter sejak Rabu (14/7/2021).
Berdasarkan keterangan penduduk desa setempat, banyak warga mengaku merasa resah atas kelakuan Samto.

Baca juga: Bongkar Kebohongan Eks Anggota DPRD yang Viral Ngaku Ditusuk, Polisi: Kok Kejam Sekali Petugas
Baca juga: Sosok Mat Peci, Pria Viral Tawar Es Tebu Rp 5 Ribu Jadi Rp 500 Ribu: Mau Memberi tapi Menghormati
Dikutip TribunWow.com dari TribunSolo.com, hal tersebut sungguh ironis lantaran Samto sendiri mengaku memasang baliho itu karena kesal banyak acara hajatan warga yang dibubarkan paksa oleh aparat berwenang karena mengundang kerumunan di tengah pandemi Covid-19.
Diketahui, Samto juga sempat mengamuk di sebuah acara hajatan yang dibubarkan paksa oleh Satgas Kecamatan Jenar.
YN selaku warga desa setempat menilai Samto tidak sepantasnya bertingkah seperti itu mengingat jabatan yang bersangkutan sebagai kepala desa.
"Jadinya warga sini malah takut, banyak warga sini yang nggak suka sama dia," kata YN, kepada TribunSolo.com, Sabtu (17/7/2021).
"Kan dia juga dibayar oleh rakyat, dengan kondisi seperti ini (covid-19) seharusnya bisa mengedukasi warganya, bukan malah koar-koar nggak percaya covid," ujarnya.
YN menuturkan, Samto sudah sejak dulu memiliki sifat buruk.
"Dia memang seperti itu, sifatnya sudah dikenal jelek oleh masyarakat, tapi kita kan ya nggak bisa apa-apa, harapannya ya biar dipecat, karena memang nggak memberi contoh yang baik," tegas YN.
Foto Pakai Masker di Kepala
Dalam baliho provokatif yang dipasang Samto, nampak foto Samto berseragam dinas lengkap memakai masker di bagian kepala.
Di samping dan bawah foto Samto, terdapat kalimat provokatif sebagai berikut:
"IKI JAMAN REVORMASI
ISIH KEPENAK JAMAN P**
AYO PEJABAT
MIKIR NASIBE RAKYAT
PEJABAT SENG SENENG NGUBER UBER RAKYAT
KUI BA****
PEGAWAI SENG GOLEKI WONG DUWE GAWE
IKU KERE
PEGAWAI SING SIO KARO SENIMAN SENIWATI
KUWI BA*****"
Versi terjemahan:
"Ini jaman reformasi
Masih enak zaman P*I
Ayo pejabat
Mikir nasibnya rakyat
Pejabat yang senang ngejar-ngejar rakyat
Itu B****AT
Pegawai yang cari orang punya hajat
Itu miskin
Pegawai yang menyia-nyiakanseniman seniwati
Itu B*****AN"
Baca juga: Viral Eks Anggota DPRD Ngaku Ditusuk Petugas PPKM Pakai Bolpoin, Diduga Video Bohong dan Menyesatkan
Camat Jenar, Edi Widodo membenarkan kejadian tersebut.
"Iya benar, langsung kita (Muspika) Jenar tindak lanjuti untuk penurunan," ungkapnya kepada TribunSolo.com, Kamis (15/7/2021).
"Karena sifatnya yang provokatif terhadap pemerintah," jelasnya.
Kesal Warga Dilarang Hajatan
Dikutip dari Kompas.com, Samto mengaku memasang baliho provokatif itu sebagai bentuk kekecewaan banyak warganya dilarang menggelar hajatan di tengah pandemi Covid-19.
"Baliho saya pasang karena banyak warga saya menggelar hajatan selalu dibubarkan dan dilarang," kata Samto dihubungi Kompas.com, Kamis (15/7/2021).
Samto berpendapat, pembubaran hajatan bukanlah solusi baik.
"Jadi, saya kecewa berat. Ada warga menggelar hajatan tinggal dua hari dibatalkan. Kan kasihan," ungkap dia.
Samto mengaku ingin ada solusi lain dari pemerintah agar warga tetap bisa menggelar pesta hajatan.
"Saya pasang baliho untuk membela rakyat kecil. Tidak ada yang lain," tutur Samto. (TribunWow.com/Anung)
Artikel ini diolah dari TribunSolo.com dengan judul Viral Baliho Kades Jenar Sragen Memaki Pemerintah, Sebut Enak Zaman PKI & Pejabat Harus Mikir Rakyat, Aksi Kades Jenar Sragen Pasang Baliho Provokatif Disesalkan Masyarakatnya: Warga Disini Malah Takut, dan Kompas.com dengan judul "Cerita Kades di Sragen Pasang Baliho Berisi Umpatan ke Pejabat, Kesal karena Warganya Dilarang Hajatan"