Isu Kudeta Partai Demokrat
Sri Mulyono Tuding SBY Intervensi KPK soal Penetapan Tersangka Anas Urbaningrum: Sprindik Bocor
Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia, Sri Mulyono menuding ada peran dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam penetapan tersangka Anas.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
"Pak SBY meminta supaya KPK segera menetapkan status hukum Anas Urbaningrum, 'Kalau bersalah nyatakan bersalah, kalau tidak besalah, mengapa tidak bersalah'. Saya masih hafal itu."
"Tanggal 4 SBY pidato, tanggal 7 Sprindik Anas Bocor. Ini kan jelas intervensi, tanggal 8 dilucuti," pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SBY belum menanggapi tudingan intervensi KPK yang dilayangkan oleh Sri Mulyono.
Simak videonya mulai menit ke- 58.22:
Sri Mulyono Sebut SBY yang Bunuh Demokrasi di Demokrat
Dalam kesempatan sama, Sri Mulyono menyebut bahwa Susilo Bambang Yudhoyon (SBY) yang menjadi awal dari dualisme Partai Demokrat.
Sri Mulyono lantas menjabarkan proses pemilihan ketua umum Partai Demokrat, mulai kongres pertama di Bali 2005.
"Ketika kongres Bali 2005 itu ada lima calon, final Prof. Budi Santoso dengan Pak Hadi Utomo. Pak Hadi Utomo menang, demokratis," ujar Sri Mulyono.
"2010 ada tiga calon, Andi Mallarangeng, Marzuki Alie, Anas Urbaningrum. Anas menang, demokratis," imbuhnya.
Menurutnya, Partai Demokrat mulai kehilangan garis demokrasinya setelah ketuai oleh SBY pada 2013 saat menggantikan Anas Urbaningrum yang terjerat kasus korupsi.
Pasalnya menurut Sri Mulyono, proses penetapan SBY sebagai ketua umum sudah dilakukan dengan cara tidak yang demokratis.
Baca juga: Jawaban Moeldoko saat Ditanya Mahfud MD soal Keterlibatan di Kudeta Demokrat: Itu Kan Urusan Saya
Baca juga: Tak Ingin jadi Kacang Lupa Kulit, Ruhut Sitompul Sedih Moeldoko Dituduh Demokrat: Jangan Halu KLB
"Kemudian 2013, Pak SBY mengambil Partai Demokrat dari Anas, dengan cara yang sangat tidak demokratis, melanggar AD/ART," ungkapnya.
"Setelah itu tidak ada lagi demokrasi di Partai Demokrat. Pak SBY megangkat dirinya sendiri jadi ketum, calon tunggal," jelasnya.
Tak hanya itu, bukti lain yang menunjukkan demokrasi di Partai Demokrat telah mati menurut Sri Mulyono adalah terjadi pada kongres 2020.
Ia menilai bahwa SBY sudah merencanakan supaya sang putranya, Agus Harimurti Yudhoyono yang akan menggantikan dirinya.
"Setelah itu Pak SBY mengkondisikan aklamasi AHY calon tunggal, tidak ada lagi demokrasi," kata Sri Mulyono.