Breaking News:

Vaksin Covid

Isu Kehalalan Vaksin Covid-19 Masih Jadi Polemik, Burhanuddin Muhtadi: Banyak yang Tidak Tahu

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menganalisis penyebab banyak orang masih enggan disuntik vaksin Covid-19.

YouTube/Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi) disuntik vaksin Covid-19 dosis kedua di halaman Istana Kepresiden, Jakarta Pusat, Rabu (27/1/2021). 

TRIBUNWOW.COM - Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menganalisis penyebab banyak orang masih enggan disuntik vaksin Covid-19.

Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan dalam tayangan Sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Senin (22/2/2021).

Menurut survei Indikator Politik, sebanyak 41 persen masyarakat kurang bersedia atau sama sekali tidak bersedia menerima vaksin.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memaparkan soal perkembangan proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia saat memberikan sambutan dalam acara 'International Conference on Tackling the Covid-19 Pandemic', Selasa (23/2/2021).
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memaparkan soal perkembangan proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia saat memberikan sambutan dalam acara 'International Conference on Tackling the Covid-19 Pandemic', Selasa (23/2/2021). (YouTube Sekretariat Presiden)

Baca juga: Cerita Hotman Paris Dapat Vaksin Gratis untuk Lansia, Diberi Teh Hangat hingga Sempat Dilarang

Burhanuddin menilai angka ini memprihatinkan, mengingat Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memberi contoh dengan menjadi penerima vaksin pertama di Indonesia.

"Di bulan Januari ketika Jokowi melakukan vaksinasi dua kali, turun dari 43 persen (yang tidak bersedia divaksin) menjadi 41 persen," papar Burhanuddin Muhtadi.

Ia menilai penurunan angka ini masih terlalu kecil dan mengkhawatirkan.

Selanjutnya, Burhanuddin menganalisis penyebab masyarakat masih tidak bersedia menerima vaksin meskipun kondisi pandemi di Indonesia sudah genting.

"Satu, mereka masih ragu soal efektivitas vaksin. Apalagi? Halal, 81 persen responden menganggap penting vaksin itu halal," kata Burhanuddin.

Baca juga: WHO Sebut Efek Samping Pasca-divaksin Covid-19 Normal, Kenali Tandanya jika Ada Reaksi Negatif

Diketahui Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan vaksin Sinovac yang pertama kali didistribusikan adalah halal dan suci, bahkan tertera tulisan tersebut di spanduk yang dipasang ketika Jokowi menerima vaksin.

Burhanuddin menilai banyak yang masih belum mengetahui fakta tersebut.

Ia menjelaskan aspek kehalalan sangat penting bagi masyarakat, bahkan menurut survei mencapai 81 persen.

"Betul bahwa MUI sudah mengatakan halal terhadap vaksin, tapi sosialisasi harus digencarkan," pesan Burhanuddin.

Ia membenarkan banyak yang belum tahu vaksin sudah ditetapkan halal, walaupun di banyak media pers dan media sosial hal itu sudah dibicarakan.

Burhanuddin lalu memberi saran agar vaksinasi sukses dilakukan.

"Misalnya kalau kita punya perasaan bahwa sudah maksimal tapi datanya seperti itu, kita harus melakukan strategi sosialisasi lebih luas sekali dengan melibatkan semua pihak," katanya.

"Supaya vaksinasi itu sukses. Saya termasuk orang yang setuju, seperti tokoh-tokoh dari PKS, tokoh-tokoh dari Demokrat, yang selama ini berada di barisan oposisi, libatkan semua itu," tambah pengamat politik ini.

Lihat videonya mulai menit 2.00:

Survei Menunjukkan Jokowi Divaksin Covid-19 Tak Buat Masyarakat Antusias

Hasil survei menunjukkan keterlibatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai penerima vaksin Covid-19 tidak banyak menaikkan antusiasme masyarakat.

Halaman
12
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved