Vaksin Covid
WHO Sebut Efek Samping Pasca-divaksin Covid-19 Normal, Kenali Tandanya jika Ada Reaksi Negatif
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) menjelaskan efek samping pasca-penyuntikan vaksin Covid-19 adalah hal wajar.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) menjelaskan efek samping pasca-penyuntikan vaksin Covid-19 adalah hal wajar.
Dilansir TribunWow.com, hal itu disampaikan Staf Keamanan Obat dan Vaksin WHO Ayako Fukushima melalui akun Twitter resmi @WHO, Minggu (21/2/2021).
Menurut Fukushima, otoritas kesehatan sudah memastikan keamanan vaksin Covid-19 pada setiap orang yang menerimanya.

Baca juga: Seseorang Masih Bisa Terjangkit Virus Corona meski Sudah Vaksinasi Covid-19, Begini Penjelasannya
Jika muncul efek samping setelah disuntik vaksin, hal itu normal, bahkan telah diperkirakan.
"Tandanya tubuh Anda sedang membangun proteksi terhadap virus," jelas Ayako Fukushima.
"Efek samping pada umumnya meliputi rasa nyeri, kemerahan pada bagian tubuh yang disuntik, demam ringan, rasa lelah, sakit kepala, atau sakit pada otot dan sendi," paparnya.
Normalnya gejala efek samping itu terjadi kurang dari seminggu.
Namun jika efek samping terus terjadi setelahnya, maka penerima vaksin harus segera memeriksakan diri.
"Jika gejala-gejala ini Anda rasakan lebih parah atau terjadi lebih dari seminggu, segera hubungi fasilitas layanan kesehatan yang memberi Anda vaksin," papar Fukushima.
Dengan demikian fasilitas pelayanan kesehatan dapat memastikan vaksin dibuat lebih aman lagi.
Selain efek samping, ada pula kemungkinan reaksi negatif yang muncul akibat vaksin.
Baca juga: Penderita Diabetes Apakah Aman Disuntik Vaksin Covid-19? Simak Penjelasan Dokter
Fukushima menjelaskan proses yang harus dilakukan petugas kesehatan jika mendapat laporan tentang reaksi negatif terhadap vaksin Covid-19.
"Pertama, petugas kesehatan akan menangani gejala yang Anda rasakan," katanya.
"Kemudian pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan untuk mengetahui penyebab gejala tersebut, seberapa umum terjadi di lingkungan atau negara Anda, serta jika kemungkinan hal itu terjadi akibat ada masalah di penyimpanan, distribusi, atau administrasi vaksin," terang Fukushima.
Jika reaksi negatif terus berkelanjutan, otoritas kesehatan setempat harus menunda distribusi vaksin lebih jauh.