Isu Kudeta Partai Demokrat
Baca Bahasa Tubuh Moeldoko soal Kudeta Demokrat, Rocky Gerung: Bukan Sekadar Mencurigakan
Pengamat Politik Rocky Gerung mencoba membaca bahasa tubuh dari Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Pengamat Politik Rocky Gerung mencoba membaca bahasa tubuh dari Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko.
Seperti yang diketahui, Moeldoko disebut-sebut ikut terlibat dalam rencana mengudeta Partai Demokrat dari kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dilansir TribunWow.com, Rocky Gerung mengatakan semakin sering Moeldoko tampil, maka semakin mudah dalam membaca gerak-gerik tubuhnya.

Baca juga: Sesalkan Sikap Moeldoko soal Kudeta Demokrat, Herzaky: Jangan Dibenturkan AHY Versus Jokowi
Baca juga: Pratikno Sebut Jokowi Tak akan Jawab Surat AHY soal Kudeta Demokrat, Mengapa?
Sebelumnya, Moeldoko telah dua kali memberikan klarifikasi soal tudingan yang ditujukan kepada dirinya.
Moeldoko membantah memiliki niatan buruk terhadap Demokrat.
Menurut Rocky Gerung berdasarkan ilmu kinesik yang sedikit banyak ia ketahui, Moeldoko terlihat menutupi gejolak yang sebenarnya dirasakan.
"Bukan sekadar mencurigakan, tetapi berupaya untuk menenangkan sesuatu yang bergejolak," ujar Rocky Gerung.
"Kan ada yang namanya ilmu kinesik, ilmu membaca bahasa tubuh."
"Kita tahu bahwa tubuh kita itu merekam pengalaman hidup kita. Otak kemudian menyensor mana yang boleh diucapkan, mana yang tidak boleh diucapkan," jelasnya.
Rocky Gerung menilai, setidaknya dari dua kali memberikan tanggapan, Moeldoko terkesan lebih kaku dari biasanya.
"Terlihat bahwa bahasa tubuhnya akhirnya tidak tahan karena diedit terus sama otaknya, sehingga jadi kaku," ungkapnya.
"Saya udah jadi kinesik juga nih menganalisis."
Baca juga: Selain Moeldoko, Ruhut Sitompul Beberkan Pertemuan Kader Demokrat dengan Luhut, Bicarakan Apa?
Lebih lanjut, Rocky Gerung meminta kepada semua pihak yang merasa terlibat untuk berbicara yang sebenarnya, termasuk Moeldoko.
"Kita belajar itu di dalam ilmu pedagogik untuk mengajar mahasiswa kita tahu mana yang sedang berbohong, pura-pura ngerti. Jadi saya terlatih membaca bahasa tubuh."
"Jadi sebaiknya ada kejujuran dan ketebukaan sehingga enggak lagi yang namanya diseret-seret."