Isu Kudeta Partai Demokrat
Sehari Sebelum AHY Umumkan Gerakan Kudeta Demokrat, SBY: Banyak Cara Berpolitik yang Bermoral
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengungkapkan adanya gerakan makar dengan tujuan untuk mengudeta dirinya.
Penulis: Elfan Fajar Nugroho
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mengungkapkan adanya gerakan makar dengan tujuan untuk mengudeta dirinya.
Dilansir TribunWow.com, menurut AHY terdapat lima orang yang mencoba mengambil alih kekuasaan Partai Demokrat, termasuk satu di antaranya merupakan seorang pejabat pemerintah di lingkaran Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Sehari sebelum pernyataan resmi dari AHY, Minggu (31/1/2021), sang ayah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga merupakan mantan Ketum Demokrat dan Presiden ke-6 RI, rupanya telah menuliskan cuitan tentang cara berpolitik yang bermoral.
Baca juga: Berkaitan dengan Pilpres 2024, AHY Jelaskan Duduk Perkara soal Rencana Pengambilalihan Demokrat
Baca juga: Kata Rachland Nashidik soal Nama-nama 5 Orang yang Diduga Mau Ambil Alih Partai Demokrat
SBY mengatakan ada tiga golongan manusia dalam menjalani hidup maupun berpolitik.
Tiga golongan tersebut adalah orang baik, orang buruk, dan orang jelek atau menjijikan.
Dirinya berharap, ketika tidak bisa menjadi orang baik, setidaknya tidak menjadi orang jelek.
"Bagi siapapun yang memegang kekuasaan politik, pada tingkat apapun, banyak cara berpolitik yang lebih bermoral & lebih beradab."
"Ada 3 golongan manusia, yaitu "the good", "the bad" & "the ugly". Kalau tidak bisa menjadi "the good" janganlah menjadi "the ugly"," tulis cuitan SBY, Minggu (31/1/2021).

Duduk Perkara, AHY Sebut Berkaitan dengan Pilpres 2024
Gerakan kudeta atau mengambil alih secara paksa kekuasaan partai politik disebut menyasar Partai Demokrat.
Dugaan itu diungkapkan langsung oleh Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam konferensi pers, Senin (1/2/2021).
Dilansir TribunWow.com, AHY menyebut gerakan kudeta paksa tersebut berkaitan dengan pemilihan presiden 2024 mendatang.
Menurutnya, gerakan kudeta paksa itu diketahui dari banyaknya laporan atau aduan dari para pimpinan maupun kader Partai Demokrat selama 10 hari terakhir.
Mereka melaporkan adanya gerakan dan manuver politik yang sistematis yang dilakukan oleh segelintir kader dan mantan kader Demokrat serta melibatkan pihak luar atau eksternal partai.
Baca juga: Buntut Panjang Kasus Abu Janda, Relawan Pro Jokowi Anggap Buzzer Berbahaya: Roy Suryo Saja Dibully
"Gabungan dari pelaku gerakan itu ada 5 (lima) orang, terdiri dari 1 kader Demokrat aktif, 1 kader yang sudah 6 tahun tidak aktif, 1 mantan kader yang sudah 9 tahun diberhentikan dengan tidak hormat dari partai, karena menjalani hukuman akibat korupsi, dan 1 mantan kader yang telah keluar dari partai 3 tahun yang lalu," jelas AHY.
"Sedangkan yang non-kader partai adalah seorang pejabat tinggi pemerintahan yang sedang kami mintakan konfirmasi dan klarifikasinya kepada Presiden Joko Widodo," imbuhnya.