Kabinet Jokowi
Tawa Risma Jawab Tuduhan Pakai Pemulung Palsu saat Blusukan: Kerja Saja Capek, Pakai Nyetting Segala
Mensos Risma tertawa saat ditanya awak media soal isu pakai pemulung settingan saat melakukan blusukan di Jakarta.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
TRIBUNWOW.COM - Aksi blusukan yang dilakukan oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini di sekitar Jakarta menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.
Bahkan aksi Mantan Wali Kota Surabaya itu disebut settingan karena sudah menyiapkan pemulung abal-abal atau palsu sebelum melakukan blusukan.
Menanggapi hal tersebut, Risma sempat tertawa saat memberikan bantahan soal memakai pemulung settingan.

Baca juga: Soal Aksi Blusukan, Pejabat Kemensos Sebut Risma Sangat Peduli Warga Miskin: Kami Sangat Terpanggil
Dikutip dari YouTube Warta Kota Production, Risma awalnya tertawa mendengar pertanyaan dari awak media soal isu pemulung settingan.
"Saya gimana bisa nyetting itu. Saya itu tidak kenal dan saya mau ke Jakarta itu tidak tahu mau ke mana dan saya tidak hafal jalannya," kata Risma di Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (8/1/2021).
"Ya gimana saya mau nyetting," sambungnya.
Risma lalu mengungkit kebiasaannya yang selalu lewat jalan berbeda ketika berangkat kerja.
Ia juga menyampaikan bahwa sebelum menjadi Mensos, dirinya sudah lama memerhatikan kehidupan orang-orang yang membutuhkan bantuan.
"Saya tiap hari selalu berpindah-pindah itu sudah saya lakukan sejak PNS dan saya tidak pernah di jalan yang sama itu tidak pernah," ujar Risma.
"Jadi kalau saya berangkat itu hari ini lewat sini. Saya akan mencoba lewat tempat lain. Jadi bukan karena Menteri Sosial pun saya tetap perhatikan orang-orang seperti itu," lanjutnya.
Baca juga: Dituding Jadi Pemulung Settingan saat Risma Blusukan, Ini Jawaban Kastubi
Kerja Saja Capek
Kemudian Risma mengenang ketika dirinya masih menjadi Wali Kota Surabaya.
Kala itu dirinya juga sempat menolong orang yang tidur di tempat sampah saat mengunjungi Jakarta.
"Saya enggak enak, kalau saya biarkan dia mati, saya berdosa karena saya tahu. Meskipun saya bukan siapa-siapa di Jakarta," ujar Risma.
Ia mengatakan saat itu orang yang tidur di sampah tersebut justru menghampiri dirinya.
"Sudah makan? Belum, aku lapar," kata Risma menirukan percakapannya dengan seorang tunawisma di Jakarta pada saat itu.
"Terus saya belikan makanan."
Risma selanjutnya kembali menegaskan bahwa ia tidak pernah menyetting kegiatannya menemui tunawisma.
"Jadi sekali lagi, enggak ada niatan (nyetting), capek sekali nyetting-nyetting gitu," ucapnya.
"Orang kerja saja sudah capek, pakai nyetting-nyetting segala," lanjut Risma sambil tertawa.
Baca juga: Dituduh Jadi Pemulung Settingan saat Risma Blusukan, Penjual Poster: Orang Enggak Tahu Kebenarannya
Simak video selengkapnya mulai menit awal:
Curhat Korban Tuduhan Pemulung Settingan
Diketahui, narasi pemulung settingan dikembangkan oleh akun Twitter @Andhy_SP211.
"Gembel ternyata bisa menjadi profesi yg menguntungkan,bisa ikut Drakor tanpa casting pastiny.." tulis @Andhy_SP211, Rabu (6/1/2021) pukul 10.22 WIB.
Akun tersebut juga mengunggah dua foto wajah seorang gelandangan berambut dan berkumis putih, bertopi hitam serta mengenakan masker.
Ia lalu menyertakan foto lain yang disebut-sebut sebagai foto penjual poster Soekarno yang diunggah oleh akun Facebook Adhe Idol.
"Kalau yg menghadap ke depan atau yg rambutnya putih/ubanan kek kenal itu, tukang jualan poster Soekarno Menang dia orang PDIP. Lokasi jualanya jln Minang kabau Manggarai, selain itu dia juga jualan kelapa muda. Terciduk juga,” demikian tulis akun Facebook Adhe Idol yang diunggah melalui Twitter @Andhy_SP211.

Menanggapi tuduhan tersebut, seorang penjual toko yang dituding menjadi pemulung mengaku jadi korban bullying.
Dikutip dari TribunJakarta.com, perundungan itu diterima oleh Doni BK.
Doni BK adalah seorang pemilik toko poster Presiden Soekarno di Setiabudi, Jakarta Selatan.
Ia dituding menjadi seorang pengemis abal-abal saat Risma melakukan aksi blusukan.
Doni bercerita, anaknya menjadi target bullying akibat beredarnya narasi tuduhan di media sosial itu.
“Komen (bully) di media sosial sampai anak nangis. Anak keempat itu di-bully lewat medsos. Kok begitu dibilang, biar laku jualannya. Katanya pencitraan,” kata Doni saat ditemui di tokonya di Jalan Minangkabau, Pasar Manggis, Setiabudi, pada Kamis (7/1/2021) siang.
Deri Setiadi (19) selaku putra Doni mengaku ia kini dibully oleh teman-temannya gara-gara tuduhan jadi pemulung palsu.
“Di komentar-komentar begitu. Mengejek. Kok jualan gitu, aktingnya jago. Di Twitter bilang jago setting. Padahal itu orang enggak tahu kebenarannya,” ujar Deri saat ditemui bersama Doni.
Doni mengatakan, pemulung yang ditemui oleh Risma adalah orang yang berbeda dari dirinya.
“Bahwasanya itu pemulung (gelandangan) itu berstatus jual bingkai itu tidak benar. Pedagang aslinya saya,” ujar Doni saat ditemui, Kamis (7/1/2021) siang.
“Yang (pemulung) ditemui (Risma) itu bukan berstatus seorang pedagang foto Bung Karno. Makanya saya enggak terima itu,” tambah Doni. (TribunWow.com/Anung)
Sebagian artikel ini diolah dari Tribunjakarta.com dengan judul Curhat Pemilik Toko Poster Bertemu Risma, Sang Anak Nangis Di-Bully karena Ayahnya Disebut Pemulung