Polsek Ciracas Diserang
Ada Oknum TNI Jarah Makanan saat Menuju Polsek Ciracas, Pangdam Jaya: Gerobak Bakso Digulingkan
Sejumlah warga sipil tak bersalah ikut terkena imbas amukan para oknum TNI yang melakukan penyerbuan ke markas Polsek Ciracas.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Lailatun Niqmah
Mulai pertama yakni kegiatan latihan para prajurit di barak.
"Dia harus siap tempur, oleh karena itu terus dilatih, bagaimana teknik bertempur, bagaimana menembak yang baik," kata Sutiyoso.
Selanjutnya, Sutiyoso menyinggung soal perilaku agresif yang memang sengaja ditumbuhkan dalam pasukan tempur.
"Tapi di samping itu ada sebuah indoktrinasi, yang indoktrinasi itu mengarah kepada bagaimana membuat prajurit itu mempunyai agresivitas yang tinggi," kata Sutiyoso.
Sutiyoso menjelaskan, sifat agresif perlu dibangun supaya prajurit tidak memiliki keraguan dalam beraksi.
"Prajurit tempur tidak boleh ragu-ragu," ujarnya.
Kemudian Sutiyoso menyinggung soal jiwa korsa yang juga sengaja ditumbuhkan pada korps-korps di TNI.
Lalu ketiga adalah rasa kesetiakawanan yang tumbuh di antara pasukan tempur karena selalu bersama dalam menjalani kegiatan apapun.
Merujuk dari pemaparan tersebut, Sutiyoso mengatakan bahwa prajurit bisa mengalami bosan apabila tidak pernah diturunkan ke medan perang.
"Prajurit itu sebenarnya dilatih terus-terusan," kata Sutiyoso.
"Dan itu menjadi membosankan karena dia dilatih bertempur tapi tidak pernah dipraktekkan, bertempur dengan siapa."
Menurut Sutiyoso kebosanan para prajurit adalah sebuah masalah.
"Itu masalah."
Sutiyoso mengambil contoh bagaimana seorang petinju dilatih terus karena memiliki tujuan untuk diadu melawan musuh di atas ring.
"Lalu kalau tidak masuk ring? Sama juga anak-anak (prajurit) ini, latihan membosanakan terus-terusan tapi tidak pernah dikirimkan (ke medan perang) untuk mempraktikan keterampilannya," ungkap Sutiyoso. (TribunWow.com/Anung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/pangdam-jaya-mayjen-tni-dudung-ab9992020.jpg)