Breaking News:

Virus Corona

Kisah-kisah Minta Maaf Mantan Pacar saat Karantina, Ada yang ke 2 Mantan: Saya Tahu Ini Terlambat

Setelah permohonan permintaan maaf dari mantan pacar yang diunggah ke media sosial viral, sejumlah orang turut menceritakan permintaan maaf mereka.

Tayang:
Editor: Mohamad Yoenus
Tribun-video.com/ Rena
ILUSTRASI. Selama masa karantina Corona, ternyata banyak orang yang meminta maaf kepada para mantan pacarnya. 

Dalam emailnya dia pun mengatakan menjadi tenaga relawan untuk membantu komunitas yang rentan selama karantina dan sekarang adalah waktu untuk merefleksikan diri dan menjadi orang-orang baik bagi sesama.

Merasa terbawa ke masa lalu, Irina belum pernah merasakan lagi emosinya bercampur aduk.

Dia pun memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak untuk menjernihkan pikirannya.

Ketika dia kembali, dia memutuskan untuk membalas email.

Dia mengatakan kepadanya untuk bersikap baik kepada dirinya sendiri dan mengatakan bahwa semua orang telah melakukan kesalahan, terutama ketika mereka masih muda. Dan kemudian dia menyampaikan permintaan maafnya.

Irina menjawab, "Saya tidak punya tanggapan apa pun atas permintaan maafmu. Mungkin saya sudah memaafkanmu, mungkin saya berhenti untuk peduli. Saya harap kamu puas bahwa saya tidak marah."

Dia berpikir sejenak, bertanya-tanya apakah ini jawaban yang tepat.

"Saya rasa dia ingin menebusnya," kata Irina. "Namun bukan saya yang harus memberikannya. Dialah satu-satunya yang bisa memberikan untuk dirinya sendiri - memaafkan dirinya sendiri."

Irina mengirimkan emailnya dan kembali lagi ke duduk di depan komputernya.

Minta Maaf ke Dua Mantan

Chris (26) menyampaikan permohonan maaf kepada dua mantan pacarnya.

Sudah 10 hari karantina ketika Chris mengirim pesan kepada Sarah.

Usai bertengkar hebat, Sarah terduduk di sudut ruangannya sambil terisak menangis dan nafas tersengal.

Sarah meminta Chris untuk meninggalkannya dan mereka mengakhiri hubungan yang sudah berjalan delapan bulan.

Chris terkadang masih memikirkan Sarah. Mereka masih saling mem-follow di media sosial.

Namun kenangan itu telah memudar, pacarnya semasa kuliah. Kini, tujuh tahun kemudian, bayangan Sarah kerap menghinggapi benak Chris: Sarah yang terduduk di lantai sambil menangis.

Chris mulai menjalani karantina pada 10 Maret, hari di mana Komisi Darurat Nasional AS menyarankan restoran dan bar tutup, dan arahan presiden meminta orang untuk bekerja di rumah.

Seminggu sebelumnya, dia memulai hari dari pukul 5.30 pagi.

Dia akan bekerja bersama rekan-rekannya di pangkalan militer di Missouri di mana dia bekerja sebagai insinyur IT, pulang, mandi, makan, dan kembali ke pangkalan.

Dia tinggal sendirian di sebuah apartemen di dekatnya.

Sepulang bekerja terkadang dia memasak atau pergi bersama teman-temannya atau mengobrol online sampai waktu tidur tiba.

Karantina membuat dia memiliki banyak waktu.

Awalnya dia sibuk. Namun setelah 10 hari rapat lewat Zoom dan berolahraga dengan panduan YouTube serta menonton film Succession, pikirannya kembali melayang membayangkan pacar pertamanya.

Dia bertemu Sarah ketika mereka berusia 18 tahun, di sebuah akademi militer.

"Itu adalah hubungan yang intens," kata Chris, 26 tahun. "Kami menghabiskan seluruh waktu bersama, semua rencana kami bersama, dan begitu juga identitas kami."

Sebagai remaja yang mengawali karir di Angkatan Darat AS, mereka berbagi semua masalah satu sama lain.

Setelah berbulan-bulan, Sarah mempunyai masalah dengan keluarganya sendiri dan itu mulai menyita perhatian Sarah, dan Chris merasa tidak bisa membantunya.

Chris akhirnya mengatakan jika dia tidak bisa melanjutkan hubungannya, Sarah langsung terduduk di lantai dan menangis.

Dia terpukul dan mengatakan terlalu mendadak mengakhiri hubungannya.

Setelah itu mereka saling menghindar ketika bertemu di kampus, terkadang terlihat canggung juga.

Lalu mereka lulus, memilih jalan sendiri-sendiri, begitu seterusnya sampai akhirnya tanggal 19 Maret, Chris mengirim pesan pada Sarah.

"Sarah, saya mengerti bahwa ini sudah lama, tapi saya merasa bahwa cara kita mengakhiri sesuatu itu tidak benar, dan cara saya memperlakukanmu di akhir hubungan kami telah menyakitimu."

"Saya tahu kita berdua sudah lama terpisah satu sama lain, saya harap kamu baik-baik saja."

Sarah dengan cepat membalasnya.

"Kabar saya baik-baik saja!"

Lantas keduanya saling berbalas pesan.

Dia langsung bercerita tentang pekerjaan barunya yang sangat dia sukai, yaitu mengajar. Dan, tambahnya, hubungannya dengan keluarga semakin membaik.

"Dia mengatakan tidak bisa menemui saya untuk sementara ini [karena saya] adalah seseorang yang sudah menyakitinya," kata Chris. "Dia bilang sekarang dia menyadari bahwa kami tidak cocok satu sama lain."

Terdorong dengan sambutan hangat saat berkirim pesan, Chris memutuskan untuk mengirim pesan pada mantan pacar yang kedua.

"Kami lebih merupakan teman tapi mesra," katanya. "Kami tidak pernah mengatakan kami eksklusif."

Lisa dan Chris berpacaran lewat aplikasi Tinder pada tahun 2016. Mereka tinggal di kota yang berbeda. Lisa tinggal di Washington DC, tempat keluarga Chris.

Sebagian besar hubungan mereka dihabiskan secara online.

"Kami mengobrol di hampir setiap aplikasi media sosial dan kebanyakan melalui teks," kata Chris.

Awalnya mereka ngobrol lewat video, namun lama kelamaan intensitasnya berkurang.

Mereka bertemu satu sama lain setiap beberapa bulan, bertemu jika berada di tempat yang sama.

Beberapa tahun kemudian, mereka juga mulai mengurangi pertemuan, akhirnya menjadi persahabatan online.

Lantas di malam Tahun Baru 2018 Lisa dan Chris berada di kota yang sama dan mengatur waktu untuk bisa saling bertemu.

Waktu itu Lisa sudah punya pacar baru, Sam. Dia memberi tahu Chris tentang Sam, bahkan berkeluh kesah soal pertengkaran dalam hubungan mereka.

Untuk pertama kali Chris dan Sam bertemu. Suasana pertemanan terasa di malam ituu, mereka minum bersama sampai mabuk.

Dan di tengah-tengah percakapan yang tidak karuan, dengan percaya diri Chris mengungkapkan apa saja yang sudah Lisa ceritakan padanya tentang Sam.

Chris telah merusak kepercayaan Lisa, mereka akhirnya bertengkar di luar. Lisa, Sam dan temannya lantas meninggalkan Chris untuk mencari tempat lain.

Lisa kemudian mengirim pesan pada Chris betapa marahnya dia karena Chris sudah membongkar rahasinya pada Sam.

Itulah terakhir kalinya Chris bertemu Lisa.

Jadi setelah mengirim pesan pada Sarah (pacar pertamanya), Chris juga mengirim pesan pada Lisa (mantan pacarnya yang lain).

"Kamu dulu sangat penting bagi saya, dan saya minta maaf atas semua yang saya lakukan malam itu. Saya tahu bahwa saya keterlaluan dan saya seharusnya tidak melakukannya. Saya harap kamu baik-baik saja di masa karantina ini."

Lisa membalas keesokan harinya.

Dia mengatakan baik-baik saja selama karantina, dan dia telah menikah dengan Sam.

Namun tampak jelas bahwa dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Dia tidak menanggapi atau menerima permintaan maaf Chris.

2 Pekerja Pusat Penelitian Daging Terinfeksi Corona, Pasar di Beijing China Mendadak Ditutup

Chris berharap bisa meminta maaf kepada kedua mantan pacarnya di saat yang sama, meski karantina bukanlah faktor utama.

"Tapi mungkin itu akan menjadi teks orang mabuk di tengah malam."

Dia mengatakan permintaan maaf mungkin terlihat konyol bagi sebagian orang, karena mereka menjawab keinginan orang yang minta maaf, dan belum tentu orang itu mau menerima permohonan maaf.

Namun menurutnya dia tidak mengharapkan Sarah ataupun Lisa mengatakan apa pun yang akan membuatnya merasa lebih baik.

"Saya tidak bisa mengatakan saya tidak melakukannya dengan harapan mereka akan memaafkan saya."

"Saya juga tidak mengharapkan balasan dari mereka. Dan jika mereka tidak memaafkan saya, itu juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin mereka tahu betapa buruknya sikap saya di masa lalu."

Mengapa Minta Maaf

Nastaran Tavakoli-Far pembawa acara The Gender Knot, sebuah podcast yang mengeksplorasi masalah budaya.

Dia memandu acara "loads and loads and loads" tentang psikologi permintaan maaf dan apa yang memotivasi seseorang untuk melakukannya.

Karantina, tambahnya telah menambah dimensi lain.

"Ada alasan jelas mengapa kita merenungkan perilaku kita, kita semua punya banyak waktu untuk berpikir. Banyak hal yang kita lakukan untuk menghindar dari renungan, seperti berwisata, bersosialisasi, bepergian.

"Pada saat yang sama ini adalah kesempatan untuk menjadi bijaksana tentang hubunganmu dan menanyakan semua pertanyaan mendasar tentang tujuan hidupmu dan jejak apa yang akan ditinggalkan."

Tetapi permintaan maaf perlu dipikirkan, katanya.

"Anda seharusnya tidak pernah memberikan permintaan maaf agar merasa lebih baik. Meminta maaf hanyalah langkah pertama untuk menebus kesalahan. Anda harus siap dengan cara orang menanggapi permintaan maaf Anda, dan mereka bisa saja tidak memaafkan Anda jika mereka mau.

"Meski Anda punya waktu untuk memikirkan hal-hal buruk di masa lalu, begitu juga orang yang menerima permintaan maaf, dan kamu mungkin bisa memicu emosi yang tidak mereka inginkan saat ini." (BBC/Megha Mohan)

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 4/4
Tags:
Virus CoronaPacarKarantina
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved