Terkini Nasional
Ekonom INDEF Sebut Alasan Ajak Belva Debat, Refly Harun Singgung Nama Jokowi: Dulu Banggakan Stafsus
Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira sempat mengajak mantan Staf Khusus (Stafsus) Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi), Belva Devara berdebat soal Kartu P
Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Atri Wahyu Mukti
Menurut Sultan, keberadaan mereka justru hanya dijadikan sebagai boneka untuk melindungi pemerintah dari serangan kaum milenial.
"Karena seharunya memang milenial jangan mau dijadikan staf," kata Sultan.
"Kan gini, saya enggak persoalkan prestasi masing-masing, pencapaian pribadi masing-masing, semua saya anggap orang hebat,"
"Tetapi mereka tidak bisa membaca situasinya, ketika mereka diangkat hanya dijadikan boneka kecil di atas bonek lagi dan ada dalang."
• Cegah Meluasnya PHK, Jokowi Berikan Stimulus untuk Perusahaan yang Pertahankan Pekerjanya
Sultan mengakui bahwa mereka tujuh stafsus milenial memang tidak diragukan prestasi dan pencapainya pribadinya.
Namun kesalahan dalam mengambil tindakan justru bisa menghancurkan nama baiknya dan imbasnya pada seluruh generasi milenial.
Selain menyoroti dari para stafsus, dirinya juga menilai bahwa kebijakan Jokowi membentuk stafsus milenial dirasa keputusan yang tidak perlu.
"Jadi hanya dipertontonkan kepada publik, seolang mereka adalah harapan, padahal hanya baut kecil yang enggak ada pengaruhnya sama sekali di atas oligarki kekuasaan," ungkap Sultan.
"Tujuh milineal itu akhirnya akan hancur namanya dan merusak, bukan hanya tujuh orang itu yang rusak namanya, semua generasi milenial dirusak oleh tujuh orang itu."
"Saya pikir mau tujuh-tujunya mundur, memang seharunya tidak dibikin milenial staf presiden, ditambah presiden seharusnya tidak membuat kekonyolan yang terjadi akhir-akhir ini," pungkasnya. (TribunWow.com)