Breaking News:

Virus Corona

AS Izinkan Penggunaan Remdesivir untuk Penyembuhan Pasien Virus Corona, Ini Penjelasannya

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengizinkan penggunaan secara darurat remdesivir

Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
TribunVideo/Radifan Setiawan
ILUSTRASI Virus Corona/Covid-19 

TRIBUNWOW.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengizinkan penggunaan secara darurat remdesivir - obat yang dikembangkan sebagai pengobatan Ebola - untuk membantu orang pulih dari Virus Corona.

Izin dari FDA ini artinya obat antivirus itu sekarang dapat digunakan pada para pasien yang terpapar Covid-19 dalam kondisi parah di rumah sakit.

Uji klinis baru-baru ini menunjukkan obat itu membantu mempersingkat waktu pemulihan bagi orang yang sakit parah.

Virus Corona | Covid-19
Virus Corona | Covid-19 (Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S)

Namun demikian izin darurat FDA ini tidak sama dalam persetujuan formal, yang membutuhkan tingkat pengujian yang lebih tinggi.

Para ahli juga memperingatkan obat itu - yang pada awalnya dikembangkan sebagai pengobatan Ebola, dan diproduksi perusahaan farmasi Gilead - tidak boleh dilihat sebagai "peluru ajaib" untuk melawan Virus Corona.

Selama pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Kepala Eksekutif perusahaan farmasi Gilead Daniel O'Day mengatakan izin dari FDA merupakan langkah pertama yang penting.

Perusahaannya akan menyumbangkan 1,5 juta botol obat Remdesivir, ujarnya.

Salah-seorang komisaris FDA, Stephen Hahn juga mengatakan pada pertemuan itu: "Ini adalah terapi resmi pertama untuk Covid-19, jadi kami benar-benar bangga menjadi bagian darinya."

34 Karyawan Sampoerna Positif Corona, Pihak RSU Dr Soetomo Kaget: Sangat Mengejutkan

Apa yang kita ketahui tentang remdesivir?

Presiden Trump merupakan pendukung penggunaan remdesivir sebagai pengobatan potensial untuk menangani Virus Corona.

Dalam uji klinisnya, Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS menemukan remdesivir memangkas durasi gejala dari 15 hari menjadi 11 hari.

Percobaan ini melibatkan 1.063 orang di sejumlah rumah sakit di seluruh dunia.

Beberapa diberi obat dan yang lain diberi pengobatan plasebo.

Dr Anthony Fauci, yang menjalankan NIAID, mengatakan remdesivir memiliki "dampak positif, signifikan, positif dalam mengurangi waktu untuk pemulihan".

Namun demikian, walaupun remdesivir dapat membantu pemulihan, hasil uji coba itu tidak memberikan indikasi yang jelas apakah obat itu dapat mencegah kematian akibat Virus Corona.

Halaman
123
Sumber: BBC Indonesia
Tags:
RemdesivirVirus CoronaDonald Trump
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved