Breaking News:

Virus Corona

Indonesia Lakukan Rapid Test untuk Deteksi Virus Corona, Ahli Epidemiologi: Tes Ini Harus Jelas

Spesialis Epidemiologi, dr. Dicky Budiman memberikan analisanya mengenai pelaksanaan rapid test yang dilakukan di Indonesia.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Claudia Noventa
YouTube tvOneNews
Spesialis Epidemiologi, dr. Dicky Budiman memberikan analisanya mengenai pelaksanaan rapid test di Indonesia. 

Adapun masyarakat yang harus diperiksa adalah mereka yang memiliki gejala Virus Corona, seperti sesak napas, batuk kering, dan demam.

Riwayat penderita juga perlu diperhatikan, apakah mereka pernah bepergian ke luar negeri, ke daerah rawan virus, atau melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19.

Oleh karena itu, dokter memiliki peranan penting untuk menentukan perlu tidaknya seseorang di uji dengan rapid test.

Berkaitan dengan hal tersebut, Juru Bicara Tim Dokter Pasien Covid-19 RSUP Persahabatan, Jakarta, dr. Erlina Burhan, mengungkapkan adanya dua jenis rapid test yang dapat dilakukan.

"Kita lihat dulu rapid test-nya ini cerologi atau yang antigen," ujar Erlina.

Ia menyebutkan rapid test serologi kurang efektif karena dapat menghasilkan false negative atau mengeluarkan hasil negatif padahal sebenarnya positif.

"Karena kalau rapid test yang dasarnya adalah serologi, yang periksa darah, itu baru positif kalau ada antibodi, dan antibodi ini baru ada kalau sudah ada gejala," jelas Erlina.

"Nah, jadi kalau di awal-awal kita memakai rapid test yang serologi atau antibodi ini, maka akan false negative," sambungnya.

Erlina menyarankan agar pada fase awal pemeriksaan, pemerintah menggunakan rapid test antigen.

Rapid test antigen tersebut mendeteksi virus yang ada di spesimen cairan tenggorokan pasien, sehingga lebih efektif.

Namun, ia mengatakan tes paling efektif adalah tes PCR yang digunakan Indonesia saat ini.

Tes PCR adalah tes yang juga dilakukan dengan menguji spesimen cairan tenggorokan pasien.

Tes ini lebih akurat mendeteksi Virus Corona, namun membutuhkan beberapa waktu untuk mengetahui hasilnya.

"Butuh waktu sampai satu hari, dan itu sifatnya harus di lab. Sementara rapid test ini dapat dilakukan di setiap faskes (fasilitas kesehatan)," kata Erlina.

Erlina menyebutkan pemerintah bisa menggunakan kedua jenis rapid test, namun ia mewanti-wanti untuk lebih memperhatikan masyarakat yang akan dites.

Halaman
123
Tags:
Virus CoronaRapid TestCovid-19
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved