Breaking News:

Terkini Nasional

Di Tengah Corona, Nilai Rupiah Turun hingga Rp 16.000 per USD, Tanda Pra-Krisis Ekonomi

Rupiah merosot ke Rp 16.000 per USD, terhitung sejak Kamis (19/3/2020), Ekonom INDEF menyebut tren negatif tersebut sebagai tanda pra-krisis ekonomi

Penulis: anung aulia malik
Editor: Ananda Putri Octaviani
Grafis Tribunwow/Kurnia Aji Setyawan
Ilustrasi rupiah anjlok. Rupiah merosot ke Rp 16.000 per USD, terhitung sejak Kamis (19/3/2020), Ekonom INDEF menyebut tren negatif tersebut sebagai tanda pra-krisis ekonomi 

"Saya tidak mau menutup-nutupi lagi, bahwa amunisi bank sentral untuk meredam pelemahan rupiah makin terbatas. Hal ini bisa terlihat dari rasio cadangan devisa (cadev) Indonesia yang kecil dibandingkan negara lainnya," kata Bhima.

"Sementara Rasio cadev terhadap PDB Malaysia 27,2 persen, Thailand 39,4 persen, dan Filipina 21,7 persen."

"Artinya dibandingkan negara lain di Asean, Indonesia paling kecil amunisi Bank sentral untuk menjaga stabilitas kurs rupiah," lanjutnya.

Najwa Shihab Berbagi Curhatan Pekerja di Tengah Corona: Security, Driver Ojol, Kalian Juga Pahlawan

Jokowi : Kita Tidak Bisa Melawan Kepanikan Global

Tidak hanya mengancam kesehatan, Virus Corona (COVID-19) juga menggoyang perekonomian global.

Di Indonesia sendiri, sektor pariwisata telah merasakan dampak dari berkurangnya turis-turis asing akibat takut akan COVID-19.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada keterangan Persnya di Tangerang, Jumat (13/3/2020), menjelaskan bahwa pemerintah tak bisa berbuat banyak ketika menghadapi paniknya dunia internasional.

Keterangan Pers Presiden RI Joko Widodo, Tangerang, Jumat (13/3/2020)
Keterangan Pers Presiden RI Joko Widodo, Tangerang, Jumat (13/3/2020) (youtube Sekretariat Presiden)

Jokowi Perintahkan Rapid Test Massal Virus Corona, Anies Baswedan Antisipasi, Siap Gelar di Jakarta

Dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (13/3/2020), awalnya Jokowi menjelaskan bahwa saat ini kondisi perekonomian global sedang mengalami kepanikan.

"Sekarang ini pasar keuangan di seluruh dunia mengalami keguncangan, kepanikan," katanya.

Jokowi menjelaskan pemerintah tidak bisa berbuat banyak terhadap kepanikan yang terjadi di pasar global.

Ia menambahkan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah membenahi kebijakan-kebijakan dalam negeri.

"Kita tidak bisa melawan kepanikan global, tapi pemerintah, dan otoritas keuangan, akan selalu memantau, dan membuat kebijakan-kebijakan cepat," papar Jokowi.

Jokowi kemudian mencontohkan sejumlah kebijakan-kebijakan dalam negeri guna menghadapi kepanikan COVID-19.

Kebijakan yang dicontohkan mulai dari relaksasi pengaturan kredit yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , hingga program dari Bank Indonesia (BI).

Italia Miliki Angka Kematian Tertinggi karena Corona, 475 Orang Meninggal dalam Waktu 24 Jam

"Saya kira kita tahu, OJK telah memberikan relaksasi, kelonggaran, policy-nya cepat," ucap Jokowi.

"BI juga saya melihat, telah memberikan kelonggaran, dan relaksasi dalam policy-policy-nya."

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
Tags:
Virus CoronaCovid-19RupiahDolar Amerika Serikat (AS)
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved