WNI Perkosa Puluhan Pria di Inggris
Mantan Dosen University of Oxford Akui Mengerikannya Reynhard Sinaga, Ungkap Alasan Kasus Ditutupi
Mantan Pengajar University of Oxford, Peter Carey mengakui betapa mengerikannya kasus yang dihadapi Reyhard Sinaga.
Penulis: Mariah Gipty
Editor: Mohamad Yoenus
Selain itu, Peter lantas mengungkapkan alasan selama ini Pengadilan Inggris menutupi kasus Reynard hingga akhirnya dibuka pada Senin (6/1/2020).
Meski boleh meliput, namun pers tetap harus dibatasi dalam memberitakan kasus Reynhard.
Peter mengatakan, jika pers diperbolehkan mengetahui semuanya, maka itu akan membuat lebih kacau.
Apalagi, masih banyak korban yang belum diketahui sosoknya.
"Saya kira itu akan membuat lebih rumit dan lebih kacau, mereka mendapat sekian banyak DVD dari polisi."
"Ada 159 korban, kebanyakan tidak tahu siapa," ungkap dia.
Seadainya pers mengetahui video-video itu, identitas korban ditakutkan akan bocor.
Sedangkan, korban harus dilindungi.
• Wartawan BBC Indonesia Bongkar Suasana Jalannya Sidang Reynhard Sinaga: Dia Nikmati Persidangan
"Seumpanya pers terlibat bocoran dari desas desus bahwa ini menjadi korban, ini sesuatu yang tidak boleh terjadi."
"Harus ada perlindungan dan sebenarnya polisi tidak membutuhkan pendampingan," jelasnya.
Sebenarnya pers bisa berguna untuk keperluan dokumentari dan bisa berguna untuk mengawal proses pengadilan jika ada suatu kesalahan.
"Mungkin pers bisa menjadi watchdog seumpanya ada sesuatu miscarriage justice (gagalnya tujuan keadilan dan kepastian hukum)."
"Jadi pers bisa membuat documentary," ungkap Peter.
Namun, lantaran kasus ini terlalu berat dan korban harus dilindungi, maka pers tidak diizinkan mempublikasikan identitas-identitas terkait kasus Reynhard.
"Tapi di dalam pengadilan di Inggris, apalagi kasus seberat ini harus ada anonimitas harus ada perlindungan," lanjut dia.