Terkini Nasional
Megawati Usul Perempuan Jadi Panglima TNI, Eriko Singgung Kodrat, Pengamat Bahas Budaya Internal TNI
Ketua DPP PDIP Eriko Sutarduga dan pengamat pertahanan Muradi membahas usulan Megawati tentang jabatan panglima TNI diduduki perempuan.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Ananda Putri Octaviani
TRIBUNWOW.COM - Dalam acara perayaan hari ibu yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada Minggu (22/12/2019), Megawati Soekarnoputri memberikan sambutan sebagai Ketua BPIP.
Salah satu poin yang dikemukakan dalam sambutannya itu adalah kemungkinan perempuan menjadi panglima TNI.
Membahas usul mantan presiden keempat tersebut, Eriko Sotarduga selaku Ketua DPP PDIP dan pengamat pertahanan Universitas Padjadjaran Muradi memberikan tanggapan mereka.

• Ungkit Dirinya Bisa Jadi Presiden, Megawati: Apa Panglima TNI Tidak Boleh dari Perempuan?
Dilansir oleh TribunWow.com dari KompasTV, Eriko awalnya menyebutkan Megawati ingin mengajak perempuan untuk meraih cita-cita sebagai inti dari perayaan hari ibu tersebut.
Ia juga menyinggung peraturan di parlemen saat ini yang memberi kuota sebesar 30 persen untuk perempuan.
Menurut Eriko, hal tersebut jangan sampai dianggap sebagai cara memberikan kemudahan atau pengistimewaan kepada perempuan.
Namun, hal tersebut merupakan cara perempuan membuktikan diri.
Terkait jabatan perempuan dalam militer, menurut Eriko hal tersebut sebetulnya wajar saja.
"Ini kan bukan zaman sekarang saja bahwa ada pemimpin perempuan," kata Eriko Sotarduga.
"Tidak hanya menjadi raja atau ratu, tetapi menjadi seorang panglima."
Eriko menjelaskan bahwa sejak zaman dulu perempuan juga banyak menempati posisi penting dan strategis.
• Perjalanan Politik Gibran Menuju ke Pilkada Solo, Temui Megawati hingga Tunggu Hak Prerogatif PDIP
"Ini bukti nyata bahwa bukan baru sekarang ada menonjol, mempunyai prestasi yang luar biasa," katanya
Eriko menyayangkan adanya kultur di Indonesia yang seolah-olah membatasi perempuan berdasarkan kodrat.
"Kemarin diingatkan juga oleh Mbak Yenny (Wahid) bahwa ada empat hal yang memang secara kodrat tidak bisa dipungkiri," lanjut Eriko.
"Dan kita harus jujur juga, memang ada kultur di Indonesia yang seolah-olah membatasi. Padahal sebenarnya tidak seperti itu."
Selain itu, menurut Eriko dalam jabatan panglima yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan berstrategi, bukan kekuatan fisik.