Terkini Nasional
Megawati Usul Perempuan Jadi Panglima TNI, Eriko Singgung Kodrat, Pengamat Bahas Budaya Internal TNI
Ketua DPP PDIP Eriko Sutarduga dan pengamat pertahanan Muradi membahas usulan Megawati tentang jabatan panglima TNI diduduki perempuan.
Penulis: Brigitta Winasis
Editor: Ananda Putri Octaviani
Kemampuan berpikir ini menjadi penting karena menunjukkan kemampuan menggunakan kekuatan yang ada secara maksimal.
"Apalagi pertempuran ke depan 'kan bukan hanya soal senjata, tapi soal teknologi," katanya.
Jabatan Perempuan dalam Militer Sudah Lazim
Sementara itu pengamat pertahanan, Muradi mengatakan sebetulnya perempuan yang menduduki jabatan tertentu di bidang militer sudah cukup umum di negara lain.
Sebagai contoh, ia menyebutkan Kepala Staff Angkatan Darat di Amerika yang dipimpin oleh perempuan.
Di negara-negara lain seperti Jepang dan Slovenia juga sudah ada beberapa perempuan yang memimpin jabatan strategis tertentu.
"Saya kira, usulan Bu Mega itu lompatan yang perlu diapresiasi," kata Muradi.
• Megawati Bahas Pentingnya Peran Perempuan, Beri Dorongan Masuk Politik hingga Bisa Jadi Panglima TNI
Meskipun demikian, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merealisasikan usulan Megawati tersebut.
Muradi mengatakan sejak 2010 sudah mulai dilakukan rekrutmen taruni.
Penilaian performa taruni tersebut mulai dilakukan pada 2013.
Dengan demikian, dapat diasumsikan dalam dua puluh tahun ke depan akan ada jenderal perempuan bintang dua dan bintang tiga.
"Dengan asumsi tiga hal. Yang pertama ada perubahan paradigma di kurikulum dan rekrutmen," katanya.
Persyaratan rekrutmen yang mengharuskan taruni masih perawan dinilai bermasalah oleh Muradi.
"Yang kedua di internal TNI sendiri budayanya masih patriarkis. Artinya, masih laki-laki banget," katanya.
Meskipun di berbagai satuan militer di banyak negara juga masih seperti itu, bentuk kepemimpinan dapat memengaruhi budaya kerjanya.