Breaking News:

Buzzer Medsos

Sebut Prestasi Pemerintah Buruk, Dahnil Anzar: Kalau Baik, Masyarakat Pasti Sukarela Jadi Buzzer

Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan pemerintah dan politisi tidak memerlukan buzzer jika memiliki prestasi yang baik.

Tangkapan Layar YouTube Indonesia Lawyers Club
Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan Buzzer muncul karena pemerintah atau para politisi miskin prestasi. 

Menurutnya, saat ini para pengkritik pemerintah justru dinilai nyinyir.

"Kemudian yang ketiga apa, menenggelamkan perbedaan pendapat," ucap Dahnil.

"Jadi perbedaan pendapat itu kemudian nanti misalnya seorang Dahnil mengkritik dituduh nyinyir, bahasanya Bang Ony nyinyir."

Dahnil Anzar menambahkan, saat menyampaikan kritik terhadap pemerintah ia selalu dianggap tak menerima kekalahan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 lalu.

Hal itu lah yang menurutnya buzzer saat ini lebih cenderung menyerang para oposisi.

"Kalau sekarang misalnya kalau saya kritik ini karena kalah kompetisi 02 yang lain belum move on, jadi enggak boleh kritik gitu," imbuh Dahnil Anzar.

"Jadi pokoknya dikubur perbedaan pendapat, 3 hal ini kecenderungan-kecenderungannya adalah menyerang para oposisi."

Dahnil Anzar lantas menyinggung tentang hasil penelitian Edward Asppinall, peneliti dari Australia.

"Itulah kenapa orang-orang seperti Edward Aspinall, peneliti dari Australia segala macam ada kecenderungan yang berbahaya terhadap demokrasi di Indonesia ke depan," tutur Dahnil Anzar.

Sebut buzzer Bisa Jadi Influencer, Analis Media Sosial Singgung Follower dan Tanggapan Warganet

Sebut buzzer Anti-pemerintah Alami Ketidakadilan, Dahnil Anzar: Terpeleset Sedikit Saja Ditangkap 

Hasil penelitian itu disebut Dahnil Anzar menunjukkan adanya ancaman sistem demokrasi Indonesia.

"Dalam waktu 5 tahun ke depan, ini PR (pekerjaan rumah) kita sama-sama, oleh itu saya melihat apa solusi yang bisa dilakukan oleh kita semuanya dalam hal ini pemerintah, partai politik, DPR dan sebagainya," kata Dahnil Anzar.

Lebih lanjut ia menambahkan, buzzer muncul karena pemerintah minim prestasi.

"Saya melihat kecenderungan buzzer ini muncul, orang menggunakan buzzer muncul ketika kita minim prestasi," ungkapnya.

"Kalau prestasinya tinggi atau prestasinya baik maka sejatinya masyarakat secara automatically menjadi buzzer-nya pemerintah."

Dahnil Anzar menilai, pemerintah atau para politisi tak butuh buzzer apabila mereka memiliki prestasi yang tinggi.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
Tags:
Dahnil Anzar SimanjuntakBuzzerIndonesia Lawyers Club (ILC)
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved