Rusuh di Papua

Ditawari Najwa Shihab untuk Berbincang dengan Para Narasumber di Studio, Wiranto Justru Minta Maaf

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengucapkan permintaan maaf saat ditawari pembawa acara Najwa Shihab.

Ditawari Najwa Shihab untuk Berbincang dengan Para Narasumber di Studio, Wiranto Justru Minta Maaf
Facebook Live Trans7
Najwa Shihab dan Wiranto saat membahas soal Papua di Mata Najwa, Rabu (4/9/2019). 

TRIBUNWOW.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto mengucapkan permintaan maaf saat ditawari pembawa acara Najwa Shihab.

Hal tersebut terjadi saat Wiranto menjadi seorang dari beberapa narasumber program Mata Najwa.

Hari itu, Mata Najwa mengambil tema 'Masa Depan Papua', Rabu (4/9/2019).

Wiranto pun didapuk menjadi narasumber mewakili pihak pemerintahan.

Namun, Wiranto tak berada di studio Mata Najwa seperti narasumber lainnya.

Menkopolhukam menjadi narasumber melalui telewicara.

Hadir di ILC, Salim Said Singgung Dana Otonomi Khusus Papua dan Audit KPK

Salim Said Ingin Koreksi Judul ILC yang Bertema soal Papua, Karni Ilyas Langsung Jelaskan Hal Ini

Ia pun menjadi pembuka segmen saat menyoroti kasus Papua.

Di akhir perbincangan Wiranto dengan Najwa Shihab, Najwa menyebutkan seluruh narasumber yang hadir saat itu.

"Pak Wiranto terima kasih waktu Anda untuk Mata Najwa, di studio kami ada Pak Komarudin Watubun, Pak Freddy Numberi, ada Pendeta Benny Giay, Ibu Adriana Elisabeth," kata Najwa.

"Ada juga Direktur Amnesti Internasional Pak Usman Hamid dan ada juga Brigjen Polisi Dedi Prasetyo," tambahnya.

Najwa lalu memberikan tawaran pada Wiranto apabila ingin berbincang dengan para narasumber yang hadir.

Di ILC, Wiranto Bahas soal Kabar Pemerintah Anak Tirikan Papua: Harus Lihat Realitas yang Terjadi

"Apakah bapak berkenan untuk berbincang dengan mereka Pak Wiranto?" tanya Najwa.

Menjawab hal itu, Wiranto lalu mengatakan bahwa kesempatannya berbicara telah selesai.

Dan menurutnya para narasumber yang hadir sudah mewakili tema yang diangkat program Mata Najwa.

"Silahkan saya kira saya sudah menyampaikan pendapat saya, pemikiran saya dari apa yang saya ketahui, saya mendapatkan laporan dari Papua, Papua Barat," kata Wiranto.

"Di sana juga ada perwakilan dari kepolisian, ada juga perwakilan dari Papua, Pak Freddy Numberi dan sebagainya, saya kira mereka cukup untuk melakukan perbincangan yang lebih intens untuk teman-teman sekalian."

Di ILC Wiranto Sebut Hukum Harus Ditegakan, Tersangka Rasisme dan Kerusuhan di Papua Sudah Ditangkap

Selain itu, Wiranto juga meminta maaf karena dirinya yang tak bisa hadir langsung bergabung dengan narasumber di studio.

"Terima kasih saya kira atas kesempatan saya memberikan suatu saran pendapat walaupun dari jarak jauh."

"Saya minta maaf karena kesalahan teknis tadi ada salah komunikasi sehingga saya tidak bisa langsung ke studio," tutur Menkopolhukam.

Wiranto Sebut Ada Penumpang Gelap Kasus Rusuh di Papua

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto angkat suara soal rusuh yang terjadi di Papua.

Hal itu dikatakan Wiranto saat berbincang dengan pembawa acara Indonesia Lawyers Club Karni Ilyas, Selasa (3/9/2019) malam.

Dikutip TribunWow.com dari tayangan siaran langsung tvOneNews, mulanya Karni bertanya soal adanya 'penumpang gelap' dalam kasus Papua.

"Siapa yang jenderal maksud dengan penumpang gelap dalam peristiwa ini," tanya Karni Ilyas.

Di ILC Wiranto Sebut akan Segera Lakukan Rehabilitasi pada Instalasi Rusak Pasca-kerusuhan di Papua

Wiranto menjawab bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan pengamatan adanya penumpang gelap.

Hal ini diyakinkan dengan adanya kasus yang sebenarnya bisa terselesaikan namun justru melebar.

"Jadi gini ya kita sudah melakukan pengamatan secara seksama. Kejadian ini tidak serta merta begitu saja meledak," ujar Wiranto.

"Ada pihak-pihak lain yang memang kemudian men-skenariokan agar peristiwa yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara damai, musyawarah, kan bermula kan dari satu hinaan, kemudian perobekan bendera yang sementara masih dalam pengusutan."

"Itu kan sebenarnya bisa diselesaikan secara arief tanpa kemudian harus melebar ke sana ke mari, tapi kan kenyataannya tidak seperti itu Bung Karni."

"Kenyataannya ada satu reaksi yang begitu keras dan cepat dan luas di seluruh daerah Papua, Papua Barat."

Kondisi Papua dan Papua Barat Mulai Membaik, Wiranto: Semangat Kitorang sebagai Saudara Kembali

Menkopolhukam lalu menganggap bahwa pelebaran kasus tersebut ada pihak yang sengaja berada di baliknya.

"Tidak mungkin kalau tidak didalangi, tidak mungkin kalau tidak ada yang menunggangi, tidak mungkin kalau tidak ada yang memanfaatkan tetapi kita tahu bahwa satu sinyalemen laporan di lapangan kita umumkan kalau sudah ada bukti lengkap," ujar Wiranto.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya sudah mengantongi sejumlah nama 'penumpang gelap' tersebut.

"Sudah bukti lengkappun kalau sudah masuk proses penyidikan kita inisialnya saja kita sebutkan kita paham tahu, tapi masuk ke penyidikan masih belum cukup, tentu kami berjaga-jaga tidak begitu mudah menyebarkan ke masyarakat tapi kami sudah ngerti," tambahnya.

Sebut Referendum di Papua Tak Perlu Dilakukan, Wiranto: Itu Sudah Tidak pada Tempatnya

Diberitakan sebelumnya dari Kompas.com, pernyataan adanya 'penumpang gelap' tersebut pernah disampaikan oleh Wiranto dalam rapat terbatas di Jakarta, Jumat (30/8/2019).

"Memang rusuh ini ada yang menunggangi, mengompori, memprovokasi, ada yang sengaja dorong terjadi kekacauan," kata Wiranto saat konferensi pers usai rapat.

"Dari laporan tadi BIN, Kapolri, kita tahu siapa yang coba dapat keuntungan dari kerusuhan ini. Kita peringatkan siapa pun dia, hentikan itu, karena itu hanya ingin buat suasana instabil," ucap dia lagi.

Namun, Wiranto tidak menyebutkan pihak yang mendapat untung dari kerusuhan itu.

Mantan Panglima ABRI itu lalu menyampaikan bahwa Presiden Joko Widodo juga tidak ingin ada tindakan represif dari aparat dalam menangani Papua dan Papua Barat. (TribunWow.com/Tiffany Marantika)

WOW TODAY:

Ikuti kami di
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Mohamad Yoenus
Sumber: TribunWow.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved