Trending Mati Lampu
Tak Andalkan PLN, Kantor YLKI Pakai Solar Panel hingga Hemat Biaya Listrik 45 Persen
Kantor Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ternyada sudah menggunakan solar panel sebagai penyuplai aliran listrik.
Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
TRIBUNWOW.COM - Kantor Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ternyada sudah menggunakan solar panel sebagai penyuplai aliran listrik.
Ketua YLKI, Tulus Abadi, menyebutkan adanya penurunan biaya tagihan listrik sampai 45 persen setelah kantornya menggunakan solar panel.
Penggunaan solar panel ini dinilai dapat menjadi solusi ketika PLN tidak dapat diandalkan sebagai penyuplai utama listrik di Indonesia.
Hal itu disampaikan Tulus Abadi saat menjadi narasumber di acara Mata Najwa, Rabu (7/8/2019) malam.
• Soal Penyebab Mati Lampu, Praktisi Energi Tri Mumpuni: PLN Ini Ambigu
Tulus Abadi mengungkapkan bahwa penggunaan solar panel dapat menjadi solusi permasalahan listrik di Indonesia.
Ia menyebut solar panel merupakan bentuk implementasi energi terbarukan.
"Saya kasih contoh sebagai bentuk implementasi energi terbarukan, di YLKI kantornya sudah dipasang solar panel," kata Tulus Abadi.
Tulus Abadi menceritakan dengan penggunan solar panel tersebut, biaya listrik di kantor YLKI berkurang hingga 45 persen.
"Kita pasang 30 kWp, yang jelas tagihan listrik di YLKI turun 45 persen," kata dia.
"Jadi kita pakai kWh meter ekspor impor, jadi misalnya tagihannya yang tadinya misalnya (Rp) 1,5 juta hanya jadi 600 ribu atau 400 ribu," lanjutnya.
• PLN Beri Penjelasan Sama di DPR yang Buat Jokowi Marah, Abdul Kadir: Harusnya Lebih Cerdas Sedikit
Namun, Tulus Abadi menyebutkan bahwa tarif pemasangan solar panel di Indonesia masih cukup tinggi.
Untuk memasang solar panel dengan kapasitas 30 kWp, YLKI harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 200 juta.
Tulus mengusulkan diadakannya edukasi pada masyarakat tentang manfaat solar panel.
"Dan memang yang kita usulkan satu edukasi pada masyarakat," tutur Tulus.
Selain itu, ia juga mengharapkan adanya insentif fiskal dari pemerintah agar tarif pemasangan solar panel dapat ditekan.
"Yang kedua, (adanya) insentif, karena memang mahal untuk pasang itu biayanya mencapai 200 juta untuk 30 kWp," lanjutnya.
Apabila pemerintah tidak dapat memberikan isnentif viskal, maka menurut Tulus masyarakat yang dapat memasang solar panel adalah dari kalangan menengah ke atas.
"Kalau tidak ada insentif viskal atau dari pemerintah pembebasan pajak dan segala macam ya masyarakat masih berat untuk itu," ucap Tulus.
• Soal Kabar Pemotongan Gaji Karyawan PLN, Abdul Kadir Karding: Itu Ngawur dan Enggak Mikir
• Di Mata Najwa, PLN Nyatakan Siap Terima Keputusan jika Ada Tuntutan Hukum yang Dilayangkan
"Kecuali untuk masyarakat yang punya concern, yang punya uang karena ini kan kelompok kelas menengah, jadi mereka punya kesedaran," lanjutnya.
Mantan Direktur Transmisi dan Distribusi PLN, Herman Daniel Ibrahim, menyampaikan bahwa penerapan solar panel dapat dicontoh dari negara maju seperti California, Amerika Serikat (AS).
Di California, pemasangan panel surya hanya sebesar 10 dolar AS.
Meskipun barang elektronik yang digunakan berjumlah banyak, namun biaya tersebut tidak akan bertambah.
"Kalau referensinya di negara maju, teman saya tinggal di California, anda bayar sekitar 10 dolar, kalau punya solar televisi di rumah, berapapun anda pakai anda akhirnya bayar 10 dolar gitu loh," kata dia.
Menurutnya peraturan semacam ini perrlu diterapkan di Indonesia karena saat akan memasang solar panel mereka tidak perlu membandingkan dengan harga pasang listrik PLN yang jauh lebih murah.
"Kita sebenarnya memerlukan peraturan semacam itu," kata Herman.
"Kalau peraturan semacam itu ada, orang waktu masang itu enggak ngitung lagi, kalau sekarang orang masang pasti membanding-bandingkan sama harga PLN,"ucap dia.'
Lihat video berikut ini menit 4.02:
• PLN Beri Kompensasi Rp 865 Miliar, Arif Puyuono: Direksi Enggak Becus Kerja Harus Dipecat
Sebelumnya dalam acara Mata Najwa yang tayang pada Rabu (7/8/2019), Najwa Shihab selaku acara membahas tentang energi baru terbarukan.
Energi baru terbarukan dinilai dapat menjadi solusi jika terjadi blackout.
Diberitakan sebelumnya, wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah mengalami pemadaman listrik atau blackout pada Minggu (4/8/2019).
Dari rilis yang diterima TribunWow.com, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memohon maaf atas pemadaman yang terjadi akibat gangguan yang terjadi pada sisi transmisi Ungaran dan Pemalang 500 kV, yang mengakibatkan transfer energi dari timur ke barat mengalami kegagalan dan diikuti trip seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Jawa.
• PLN Beri Penjelasan Sama di DPR yang Buat Jokowi Marah, Abdul Kadir: Harusnya Lebih Cerdas Sedikit
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya untuk pemadaman yang terjadi, saat ini upaya penormalan terus kami lakukan, bahkan beberapa Gardu Induk sudah mulai berhasil dilakukan penyalaan," ujar Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN I Made Suprateka.
Selain itu terjadinya gangguan pada Transmisi SUTET 500 kV mengakibatkan padamnya sejumlah Area Jawa Barat.
“Sekali lagi kami mohon maaf dan pengertian seluruh pelanggan yang terdampak akibat gangguan ini, kami berjanji akan melakukan dan mengerahkan upaya semaksimal mungkin untuk memperbaiki sistem agar listrik kembali normal,” tutup Made.
Pengaturan penormalan dilakukan dari UP2B untuk meminimalisir pemadaman.
(TribunWow.com/Jayanti Tri Utami)
WOW TODAY:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/tulus-abadi_20180610_200039.jpg)