Breaking News:

Kabar Tokoh

Kata Yusril Ihza Mahendra soal Kasus Habil Marati hingga Strategi Rekonsiliasi Pilpres

Yusril Ihza Mahendra angkat bicara soal kasus Habil Marati hingga strategi rekonsiliasi Pilpres.

KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO
Kuasa hukum pasangan Joko Widodo-Maruf Amin, Yusril Ihza Mahendra, saat ditemui di kantornya, Kasablanka Office Tower, Jakarta, Jumat (12/7/2019). 

Tiap hari saya dicaci maki di media. Bahkan saya dibilang sudah kafir, sudah murtad dari Islam. Saya pikir ini hanya urusan pilpres, urusan kita beda pilihan, Anda dukung Pak Prabowo Subianto dan Pak Sandi, saya dukung Pak Jokowi dan Pak Ma'ruf, kok lantas Anda kemudian mengatakan saya murtad, saya jadi kafir. Sejak kapan Anda ini jadi Tuhan, saya pikir begitu ya.

Jadi kasusnya Pak Habil yang sekarang ini saya tangani ini, tiba saatnya nanti kasus kami pelajari semua, saya akan sampaikan ke Pak Jokowi. Pak, ini saatnya Bapak memberikan amnesti abolisi kepada mereka yang disangka makar. Baik yang terkait dengan 212 maupun yang sekarang ini terjadi.

Saya pikir itu baik bagi bangsa ini, baik bagi Pak Jokowi juga. Bahwa masyarakat akan melihat Pak Jokowi orang baik hati yang murah hati, orang yang... mungkin juga Pak Wiranto, yang mau dibunuh itu... Sudahlah, kita saling memafkan, rekonsiliasi. Semua dengan jiwa besar. Saya pikir bangsa kita jadi bersatu kembali. luka-luka kita selesai.

Cuma ya harus dikasih catatan seperti saya dulu mendraf amnesti dan abolisi kepada GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Jadi itu ada klausul. Amnesti dan abolisi ini menjadi batal demi hukum apabila mereka yang diberikan amnesti dan abolisi ini kembali menggunakan senjata untuk memperjuangkan Aceh merdeka. Jadi tetap terikat pada satu syarat.

Apakah Anda hendak menjadi jembatan bagi elemen-elemen yang berseberangan di negeri ini?

Ya sudah banyak saya melakukan hal seperti itu sebenarnya. Dulu misalnya pada 1999 sesudah terjadi masalah Timor Timur. Sudah terjadi kerusuhan Mei. Itu kan ada suara-suara membentuk semacam International Tribunal. Di Indonesia ini, kayak Rwanda dan Yugoslavia.

Itu saya mati-matian membuat Undang-Undang Pengadilan HAM. Dan itu meyakinkan dunia internasional, termasuk Dewan HAM PBB. Karena pada waktu itu di Dewan Keamanan PBB kita khawatir karena upaya untuk membentuk International Tribunal itu. Jadi dengan itu kan banyak perwira kita terselamatkan. Termasuk barangkali Pak Wiranto. Termasuk Pak Prabowo juga ya pada waktu itu.

Jadi ya tanpa beliau-beliau itu tahu saya melakukan upaya-upaya yang sebenarnya untuk melindungi bukan saja para jenderal kita pada waktu itu. Tapi juga kepentingan kita sebagai bangsa dan negara.

Konsep rekonsiliasi ini datang dari Pak Jokowi atau Anda sendiri? Saya jalan sendiri dulu. Tapi pikiran seperti ini belum saya kemukakan. Jadi Anda (Kompas.com) saja yang malah tanya. Tapi sudah ada dalam pikiran saya. Tapi saya berkoordinasi dengan Pak Jokowi. Karena Pak Jokowi keluar kemarin. Tapi message sudah saya sampaikan. Saya menangani masalah Pak Habil, karena Pak Habil meminta. Jadi saya akan bertemu Beliau. Mungkin saya akan tangani. Pokoknya jangan khawatir, lah. Pasti yang terbaik buat kita semua, lah. Alhamdulillah ya Beliau (Presiden) itu percaya pada saya.

Bagaimana respons Presiden ketika Anda memberi tahu akan menangani kasus Habil?

Hahaha... Pak Jokowi kan orangnya santai saja kalau saya ajak ngomong. "Gimana, Prof?" (menirukan gaya bicara Jokowi). "Pak Yusril, dijalankan saja". Orangnya kan enggak terlalu njelimet pikirannya. Simpel-simpel saja. Sederhana saja.

Walaupun saya belum bertemu langsung mengenai Habil, tapi saya sudah sampaikan juga melalui pejabat pemerintah kita juga yang memang terus-menerus bertemu Pak Jokowi. Saya enggak sempat bertemu Beliau. Tolong sampaikan bahwa saya menangani. Bagaimana? Saya bilang (ke pejabat pemerintah). (Pak Jokowi) bilang, jalan. Ya sudah saya jalan. Jadi bukan Pak Jokowi tidak tahu. Tahu.

Ada tanggapan dari Pak Jokowi melalui pejabat yang bersangkutan?

Nanti saya, kalau Beliau sudah datang, saya laporin.

Peluangnya Habil, bebas atau bersalah?

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Tags:
Yusril Ihza MahendraHabil MaratiKivlan ZenJoko Widodo (Jokowi)
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved