Sidang Sengketa Pilpres 2019

Satu Ruang Sidang Tertawa saat Saksi Ahli KPU Kritik Penggunaan Kata 'Disclaimer' dalam Situng

Saksi ahli KPU membuat semua orang di ruang sidang MK dalam sidang sengketa Pilpres tertawa saat mengkritik KPU soal kata 'disclaimer' dalam situng.

Satu Ruang Sidang Tertawa saat Saksi Ahli KPU Kritik Penggunaan Kata 'Disclaimer' dalam Situng
Capture Youtube tvOneNews
Saksi ahli yang dihadirkan oleh pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) sukses membuat semua orang yang ada di ruang sidang Mahkamah Konstitusi dalam sidang keempat sengketa hasil Pilpres 2019 tertawa, Kamis (20/6/2019) siang. 

TRIBUNWOW.COM - Saksi ahli yang dihadirkan oleh pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) sukses membuat semua orang yang ada di ruang sidang Mahkamah Konstitusi dalam sidang keempat sengketa hasil Pilpres 2019 tertawa, Kamis (20/6/2019) siang.

Diberitakan TribunWow.com dari saluran YouTube tvOneNews, hal tersebut terjadi saat saksi ahli tengah menyampaikan kritiknya pada KPU yang menggunakan kata 'disclaimer' dalam situng.

Dalam pemaparannya, saksi ahli yang diketahui sebagai ahli bidang IT, Marsudi Wahyu Kisworo memaparkan bahwa dirinya menjadi satu dari beberapa pihak yang merancang arsitektur situng.

Saksi Tim 02 Ternyata Tahanan Kota, Akui Bisa Hadir ke Sidang MK karena Izin Antar Ibu yang Sakit

Marsudi Wahyu Kisworo memaparkan, kesalahan entry data itu sebenarnya bisa saja terjadi dalam situng.

Dijelaskannya, kesalahan entry itu ada, dan tidak hanya terjadi di satu tempat atau hanya terjadi di satu pasangan.

"Dua-duanya ada, dan tersebar di daerah secara acak. Jadi bisa karena kesalahan entry. Karena itu, saya di sini, kalau boleh beropini, saya tidak menyebut itu kecurangan, tapi kesalahan human error biasa saja," ujar Marsudi Wahyu Kisworo.

Marsudi Wahyu Kisworo lantas menjelaskan, sejak awal pihaknya sudah memberikan disclaimer.

"Kalau terjadi salah entry karena formulirnya yang salah, karena C1 yang salah, salah menjumlah, maka yang dilakukan KPU adalah mengoreksi itu pada perhitungan suara berjenjang," jelas Marsudi Wahyu Kisworo.

"Nah, kalau C1 sudah dikoreksi, baru bisa di KPU dikoreksi lagi. Tapi tidak boleh KPU mengoreksi angkanya tanpa mengubah C1nya. Karena nanti terjadi ketidakkonsistenan antara citra atau image C1 dengan angkanya bisa tidak sama."

Mendengar pernyataan disclaimer, pemohon lantas meminta Marsudi Wahyu Kisworo menjelaskan maksud dari disclaimer dan bagaimana cara menentukan bahwa itu harus ada disclaimer-nya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved