Terkini Internasional
Kronologi Kasus Skandal Seks di Universitas Warwick, Bermula dari Laporan soal Obrolan di Medsos
Kasus skandal seks di Universitas Warwick, Inggris bermula dari laporan seorang mahasiswinya terkait pesan bermuatan kekerasan seksual di media sosial
Editor: Rekarinta Vintoko
Ketika pesan-pesan itu semakin banyak, ia bertanya kepada temannya apa isi pesan-pesan itu, dan temannya - seorang mahasiswa laki-laki - tertawa.
"Kalau kamu pikir pesan-pesan ini buruk, coba saja lihat obrolan cowok-cowok," kata Anna menceritakan jawaban temannya itu.
"Di situlah kemudian temanku itu memperlihatkan obrolan yang sudah berlangsung selama satu setengah tahun yang penuh ancaman perkosaan," kata Anna.
• Empat Pria Mencoba Memperkosa Wanita Cacat, Pelaku Cekik Anak Korban hingga Tewas karena Menangis
Anna kemudian duduk membaca obrolan Facebook itu dan melihat teman-teman laki-lakinya mengganti nama mereka dengan nama pembunuh dan pemerkosa berantai terkenal.
"Mereka membicarakan seorang mahasiswi. Mereka bicara tentang menculik dia, merantainya ke tempat tidur dan membuatnya mengencingi diri sendiri, hingga ia tertidur di atasnya," kata Anna.
Beberapa obrolan itu bahkan lebih eksplisit lagi.
"Obrolan itu bukan cuma komentar sembrono," kata Anna. "Seluruh komunitas daring itu terlibat... mereka bangga dengan isinya yang mengerikan."
Anna kemudian mencari namanya di dalam obrolan itu. Ternyata namanya muncul disebut ratusan kali.
Awalnya teman laki-laki Anna itu menganggap ringan isi obrolan itu dan bilang bahwa itu adalah "cara anak-anak cowok ngobrol", sambil berkata bahwa obrolan itu gurauan saja.
Anna terus menggulirkan obrolan, seraya membuat screenshot.
"Lalu kubilang ke temanku itu screenshot ini kubuat untuk menenangkan diri," kata Anna. "Ia bisa melihat aku mulai marah dan terus makin marah. Lalu kupikir di situlah ia mulai sadar masalahnya mungkin lebih besar daripada yang ia duga."
Segera teman Anna itu mulai berubah suaranya. Ia bilang ia tahu bahwa isi obrolan itu tak bisa diterima, dan ia memperlihatkan pada Anna untuk melindunginya.
Namun ketika Anna melihat sejumlah besar isi obrolan tentang perkosaan beramai-ramai dan mutilasi alat kelamin, insting Anna mulai berkata sebaliknya.
"Aku tak tahu apa yang harus kulakukan karena orang-orang di dalam obrolan ini adalah bagian sangat besar dari hidupku," kata Anna.
Beberapa hari kemudian Anna kembali ke rumah orangtuanya untuk libur Paskah. Namun ketika memikirkan harus kembali ke kampus dan bertemu teman-teman laki-lakinya, Anna terkena serangan panic attack.