Breaking News:

Kenaikan Tarif Ojek Online akan Mendorong Inflansi 20 hingga 30 Persen

Kenaikan tarif ojek online sejak 1 Mei lalu, diperkirakan akan mendongkrak inflansi 20 hingga 30 persen.

Editor: Mohamad Yoenus

TRIBUNWOW.COM - Penerapan tarif baru ojek online (ojol) sejak 1 Mei 2019 diperkirakan akan mendongkrak inflasi.

Terlebih tarif baru yang lebih tinggi dari sebelumnya itu hampir berbarengan dengan bulan Ramadan.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, kenaikan tarif ojek online juga akan berdampak pada inflasi hingga 50 persen.

Tarif Ojek Online Naik Mulai Hari Ini, Rabu 1 Mei 2019, Simak Besaran Kenaikannya Berikut Ini

"Momentumnya, keterkaitan kenaikan harga ini terhadap inflasi bisa mencapai 20 hingga 30 persen. Kalau saya masukkan faktor ekspektasi, itu bisa sampai 50 persen," ucap Fithra Faisal di Jakarta, Senin (6/5/2019).

"Ditambah lagi kenaikan ini dekat-dekat bulan Ramadan, di mana masyarakat berekspektasi harga-harga akan lebih tinggi. Ini akan berdampak pada inflasi yang biasanya meninggi saat bulan ramadhan. Nah, ini momentumnya salah," lanjut dia.

Di sisi lain, kenaikan tarif ojek online juga sedikit banyak berpengaruh dengan mitra Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Menurut Fithra, 70 persen UMKM mengalami peningkatan pesat ketika beker jasama dengan aplikator.

Sumbangan UMKM terhadap perekonomian negara bisa mencapai Rp 70 triliun dari peningkatan permintaan tersebut.

Sebagai contoh, restoran merupakan salah satu ladang bisnis yang mampu mendongkrak perekonomian.

Pada tahun 2018, restoran menyumbang pertumbuhan ekonomi sampai 6,71 persen, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini, banyak pula restoran yang bekerja sama dengan aplikator.

Jika tarif dari aplikator naik, maka penjualan pun akan semakin menyurut dan tidak mampu menyumbang pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen lagi.

Meghan Markle Lahirkan Bayi Laki-laki, Pangeran Harry Resmi Menjadi Ayah

"Kalau ditambah sektor-sektor kunci lain yang juga membantu meningkatkan perekonomian, maka dampaknya akan semakin besar akibat kenaikan tarif ini," ungkap Fithra.

Fithra pun mengungkap, bila faktor-faktor pertumbuhan ekonomi dipreteli satu-persatu, maka bukan tidak mungkin Indonesia harus stagnan di angka pertumbuhan di bawah 5 persen.

"Kalau satu-satu pertumbuhan ini dipreteli, maka bisa jadi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa sampai 5 persen. Bisa jadi. Jika melihat dampak-dampaknya, saya rasa ini patut dievaluasi," tandasnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved