Terkini Nasional
Mengapa Setiap Kali Membaik, Garuda Indonesia Selalu Heboh? Berikut Pandangan Prof Rhenald Kasali
Berikut ini adalah pandangan Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali terkait hebohnya Garuda Indonesia.
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
Namun perubahan paling mendasar yang harus dituntut adalah cara berpikir.
Ia menyebut 4 perubahan orientasi.
Pertama, semua insan Garuda termasuk BOC dan BOD telah harus mengerti dampak disruption.
Sementara masih banyak travel agent termasuk layanan angkutan jamaah umroh yang dikelola dengan pendekatan 1.0, yaitu paper based.
“Ini era Garuda 4.0. Mohon maaf kalau cara-cara lama cari untung sudah harus dikikis. Kalau dulu, paper-based travel, bisa kuasai seat pesawat tanpa komitmen. Hari ini load factor pesawat harus terisi. Artinya komitmen ada konsekuensinya. Kalau tidak airlines tak pernah untung. Tetapi kalau Garuda untung pasti ada Travel 1.0 yang buntung.”
Kedua, jenis pendapatan.
Bila dulu airlines bisa mengendalikan pendapatan dari penumpang semata-mata (tiket), kini airlines semakin sulit hidup dari tiket karena margin tiket dari tahun ke tahun semakin menipis.apalagi muncul LCC dan millenial traveler yang price sensitive.
GARUDA harus membidik eksekutif yang bukan prmburu diskon.
Konsumen pemburu diskon bisa diarahkan pada anak-anaknya saja (Citilink dan Sriwijaya).
Karena itu, bisnis model perusahaan penerbangan harus berubah.
Harus pandai cari pendapatan-pendapatan besar diluar tiket.
Karena itu pendapatan besar dari PT Mahata yang didapat oleh Garuda, harusnya disyukuri karena itu bentuk pendapatan non tiket yang besar.
Ketiga, Revenue Recognition.
Pengakuan pendapatan memang menjadi sumber dispute kali ini karena dalam prinsip akuntansi, dianut falsafah konservatif yang menuntun pengakuan pendapatan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu.
Namun perlu didalami juga hubungan antara up-front fee (semacam installment fee ) yang diterima di depan dengan pembayaran bagi hasil yang diterima sesuai tahun pelaksanaan.