Terkini Nasional
Arti 'People Power' yang Dilontarkan Amien Rais hingga Menimbulkan Polemik di Masyarakat
Apakah Anda tahu apa sesungguhnya makna 'people power' yang menjadi polemik setelah Amien Rais mengancam terkait hasil pemilu?
Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Ancaman Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Amien Rais jika menemukan potensi kecurangan pada hasil pemilu menjadi polemik tersendiri di masyarakat.
Amien Rais menyebutkan akan melakukan people power jika menemukan kecurangan.
"Kalau nanti terjadi kecurangan, kita nggak akan ke MK. Nggak ada gunanya, tapi kita people power, people power sah," ucap Amien Rais di Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (31/3/2019), seperti dikutip Tribunnews.com.
"Bukan revolusi, kalau revolusi ada pertumpahan darah. Ini tanpa sedikit pun darah tercecer, people power akan digunakan," tambah dia.
• Berdebat dengan Komika di Twitter soal People Power, Faldo Maldini: Yaudah, Jangan Dipaksakan
Pernyataan Amien Rais ini lantas menjadi pembahasan di masyarakat.
Banyak juga politisi yang turut memberikan komentar terkait pemaparan Amien Rais itu.
Namun, apakah Anda tahu apa sesungguhnya makna dari people power itu?
Dikutip TribunWow.com dari Wikipedia, people power merupakan istilah politik yang menunjukkan kekuatan masyarakat untuk menjatuhkan setiap gerakan sosial yang otoriter.
Istilah people power ini biasanya dikaitkan dengan peristiwa demonstrasi massal tanpa kekerasan di Filipina yang terjadi pada tahun 1986.
Aksi damai ini berlangsung selama empat hari dan dilakukan oleh jutaan rakyat Filipina di Metro Manila.
Mereka berjuang untuk mengakhiri rezim otoriter Presiden Ferdinand Marcos dan pengangkatan Corazon Aquino sebagai presiden.
Peristiwa ini juga dikenal sebagai revolusi EDSA.
• Soal Ancaman People Power Amien Rais, Dedek Prayudi: Dengan Segala Hormat, Zaman Anda Sudah Lewat
EDSA sendiri merupakan singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang merupakan tempat aksi demonstrasi itu berlangsung.
Presiden Ferdinand Marcos diketahui merupakan Presiden ke-10 Filipina.
Ia menjabat dari 30 Desember 1965 hingga 25 Februari 1986.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wow/foto/bank/originals/amien-rais_20181010_173850.jpg)