Pilpres 2019

Faldo Maldini Beri Alasan Sebut Dini Shanti Purwono 'Marah-marah', Budiman Sudjatmiko Beri Tanggapan

Jubir TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Budiman Sudjatmiko menanggapi pernyataan Jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Faldo Maldini yang dilontarkannya di Mata Najwa.

Faldo Maldini Beri Alasan Sebut Dini Shanti Purwono 'Marah-marah', Budiman Sudjatmiko Beri Tanggapan
Capture Live Mata Najwa
Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Budiman Sudjatmiko terlibat perdebatan dengan Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini. 

TRIBUNWOW.COM - Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Budiman Sudjatmiko menanggapi pernyataan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini dilontarkannya di program Mata Najwa Trans7, Rabu (6/2/2019) lalu.

Hal tersebut seperti tampak daru unggahan Budiman Sudjatmiko di akun Twitter @budimandjatmiko, Minggu (10/2/2019).

Awalnya, akun terverifikasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengunggah cuplikan video saat Budiman dan Faldo menjadi tamu di program Mata Najwa itu.

Ada pula politisi PSI, Dini Shanti Purwono di sana.

Bantah Sebut Jokowi Pakai Konsultan Asing, Faldo Maldini sampai Angkat Tangan saat Ditunjukkan Bukti

Video tersebut memperlihatkan pernyataan Dini di Mata Najwa terkait utang negara.

"Kubu 02 itu sering sekali memberikan partial truth. Partial truth itu misleading, menyesatkan. Itu bagian dari hoaks," kata Dini seperti yang tampak dalam video.

"Contoh, kalau kalian mau bicara mengenai utang, kalian juga musti bicara mengenai GDP dong. Kalian musti bicara pendapatan juga dong. Kalian jangan cuma bilang utang kita bertambah. Kalian lihat dong rasio utang kita sekarang terhadap GDP dibawah 30 persen. Tahun lalu masih 29, hari ini sudah 27 persen. Artinya utang kita hanya 27 persen daripada GDP," paparnya.

Dini lantas membandingkan era Jokowi dan era Presiden ke-2 RI, Soeharto.

"Bandingkan dengan mertuanya Pak Prabowo. Kalian bilang jaman Soeharto utang kecil. Tapi GDP kita juga rendah. Sehingga utang yang kecil itu merepresentasi lebih dari 50 persen pendapatan," katanya.

"Jadi jangan kalian itu memotong-motong informasi untuk menggiring publik terhadap opini tertentu yang kalian inginkan. Itu misleading namanya," ujar Dini kemudian.

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Ananda Putri Octaviani
Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved