Kabar Tokoh
Bantah Tudingan Teddy Gusnaidi, Gerindra: Anda Ingin Giring Opini Seolah Prabowo Penculik Aktivis
Partai Gerindra membantah tudingan yang dilontarkan oleh Dewan Pakar PKPI Teddy Gusnaidi kepada pihaknya.
Penulis: Laila N
Editor: Astini Mega Sari
Sebelumnya, akun resmi partai berlambang kepala Burung Garuda ini menegaskan bahwa Tim Mawar bukan menculik, namun, mengamankan aktivis.
"Bukan menculik tetapi mengamankan. Dan yang mengamankan itu bukan Pak @prabowo tetapi Tim
Mawar. Yang diamankan sebanyak 9 orang, sudah bebas semua dalam keadaan hidup dan sebagian menjadi kader Gerindra," tegas akun @Gerindra dalam cuitannya, Rabu (5/9/2018).
Sementara itu ada netizen lain yang menanggapi pernyataan Gerindra.
"Fakta nya sudah dibungkus dengan keputusan pengadilan militer dengan pemecatan Bhw PS yg memerintahkan. Mungkin saja ada penyesalan. Tetapi sejarah tsb tidak mungkin dihapus. Generasi millenial akan mudah mencari jejak digitalnya," tulis akun @ariepong.
Gerindra kembali menanggapi akun tersebut dengan menegaskan bahwa kebenaran suatu saat akan terungkap.
"Kami yakin generasi milenial bisa lebih cerdas dari saudara. Bisa membedakan fakta, fitnah, dan mengerti tentang 'kambing hitam' dan 'pembunuhan karakter'. Sejarah memang tidak bisa dihapus, tapi saudara juga harus ingat, bahwa yang namanya KEBENARAN pasti terungkap," tulis @Gerindra.
• Sindir Dahnil Anzar, Jubir PSI: Sebut Pemerintah Lakukan Pencitraan karena Beda Pendapat Itu Keji

Seperti dikutip TribunWow dari Kompas.com, 19 Juni 2014, sebanyak 23 orang aktivis dihilangkan pada tahun 1998.
Dari angka itu, 1 orang ditemukan meninggal yakni Leonardus Gilang dan 9 orang dilepaskan.
Sementara 13 orang lainnya masih hilang hingga kini.
Dari sembilan orang yang dilepaskan itu, ada yang bergabung bersama Prabowo ke Partai Gerindra, yakni Desmond Junaidi Mahesa dan Pius Lustrilanang.
Atas peristiwa itu, TNI membentuk Dewan Kehormatan Perwira yang diketuai Kepala Staf Angkatan Darat saat itu, Jenderal (Purn) Subagyo HS.
Hasil penyelidikan DKP, Prabowo dinyatakan bersalah lantaran tidak menaati perintah komando.
Prabowo pun diberhentikan dari keprajuritan atas kasus ini.
Mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto menunjuk Prabowo adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus penculikan aktivis pada tahun 1997/1998.
Menurut Wiranto, Prabowo yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad paling bertanggung jawab lantaran mengambil inisiatif sendiri melakukan penculikan aktivitis.