Polemik Impor Beras
Polemik Impor Beras, Faizal Assegaf Sebut Buwas Mengekor Susi Pudjiastuti hingga Bandingkan Era SBY
Ketua Progress 98, Faizal Assegaf turut berkomentar atas polemik impor beras antara direktur utama Bulog, Budi Waseso (Buwas) dan Mendag.
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Lailatun Niqmah
"Kita punya stok di akhir tahun ini tanpa penyerapan lagi itu ada 2,7 (juta ton beras), itu itungan pasti gak ngarang-ngarang karena saya bukan ahli itung-itungan," tambahnya.
• Budi Waseso Sebut Gudang Beras Sudah Penuh, Darmin Nasution: Kalau Tidak Impor Waktu Itu Repot Kita
Selain itu, Buwas juga menyindir soal pengadaan impor beras yang dirasa tidak perlu.
"Ada yang ngomong 'perlu impor', ini pikiran dari mana, saya juga bingung ini warga negara atau bukan, ini berpikir negara bangsa atau bukan,"
"Cobalah kita sama-sama, gunanya berkoordinasi itu kita menyamakan pendapat, kira-kira ini lo prediksinya,"
"Jadi kalo saya mengeluhkan fakta gudang saya ini sudah tidak mampu menyimpan, saya harus menyewa gudang bahkan meminjam itu kan cost tambahan itu cost tambahan, ada yang jawab itu urusannya Bulog kalo soal gudang, (mengumpat)," ujar Buwas.
Diberitakan sebelumnya, stok persediaan beras yang melimpah nyatanya membuat Perum Bulog harus menyediakan gudang tambahan.
Hal itu dilakukan agar stok beras tersebut bisa disimpan dengan baik sebelum didistribusikan ke pasar.
• Kronologi Saling Tuding soal Impor Beras antara Direktur Bulog Buwas dan Mendag Enggartiasto
Budi Waseso menyatakan, pihaknya bahkan harus menyewa gudang milik institusi negara lain untuk mengakomodir stok beras tersebut.
"Secara kapasitas, gudang Bulog mampu menampung tiga juta ton beras, tetapi karena ada beberapa yang harus diperbaiki, rusak, dan lainnya jadi hanya mampu 2,2 juta ton."
"Hari ini kita sewa dan pinjam gudang milik TNI AU buat menyimpan beras di luar gudang Bulog," jelas Waseso di Pasar Raya Kramat Jati, Jakarta Timur, dilansir Kompas.com, Jumat (14/9/2018).
Waseso menambahkan, saat ini ada 500.000 ton beras milik Bulog yang disimpan di gudang TNI AU tersebut.
Oleh karenanya, Waseso berharap agar beras-beras yang saat ini dimiliki Bulog bisa terserap dengan cepat agar mengurangi beban Bulog dalam hal penyimpanan beras.
"Kalau beras yang ada di Bulog bisa diserap oleh pasar yang banyak maka itu akan meringankan Bulog dan juga akan menstabilkan harga," imbuh dia.
Adapun untuk mempercepat penyerapan beras tersebut, Bulog telah menggelontorkan sebanyak 10.000-15.000 ton per hari dalam Operasi Pasar Cadangan Beras Pemerintah (OP-CBP) dengan ketentuan harga gudang Rp 8.100 per kilogram untuk wilayah 1 (Jawa, Lampung, Sumsel, Ball, NTB, Sulawesi).
Kemudian untuk wilayah 2 seperti Sumatera kecuali Lampung dan Sumatera Selatan serta NTT dan Kalimantan seharga Rp 8.600 per kilogram dan Rp 8.900 per kilogram untuk wilayah 3 Maluku serta Papua. (TribunWow.com/Tiffany Marantika)