Kecelakaan Maut di Sukabumi
Kesaksian Korban Selamat Kecelakaan Bus di Sukabumi: Tiba-tiba Melayang Dua Kali, Dar, Dar gitu
Tisna merupakan salah satu penumpang yang selamat dalam peristiwa kecelakaan maut tersebut.
Editor: Claudia Noventa
TRIBUNWOW.COM - Tragedi kecelakaan maut yang menewaskan 21 orang di jalur alternatif Cikidang-Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018) lalu, menyisakan trauma mendalam bagi Tisna Pratama (20).
Dalam kondisi penuh luka dan tak sadarkan diri, Tisna langsung dibawa ke rumah sakit setempat sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Siloam Bogor.
Tisna merupakan salah satu penumpang yang selamat dalam peristiwa kecelakaan maut tersebut.
Bus pariwisata bernomor polisi B 7025 SGA yang ditumpanginya bersama rekan-rekan kerjanya itu terjun ke dalam jurang setinggi 31 meter.
Dalam kejadian itu, 21 penumpang meninggal dunia.
• Untuk Hindari Kecelakaan Maut, Ridwan Kamil Perkenalkan Teknologi Baru Pagar Pembatas Jurang
Sementara, 17 penumpang lainnya harus dirawat di rumah sakit karena luka parah di beberapa bagian tubuhnya.
Raut wajah Tisna tampak dirundung kesedihan ketika kembali mengingat tragedi memilukan yang terjadi di akhir pekan itu.
Peristiwa Sabtu kelabu itu telah merenggut nyawa rekan-rekan kerjanya.
Tisna mengaku, sebelum kecelakaan itu terjadi, bus yang mengangkut seluruh karyawan salah satu perusahaan diler sepeda motor di Bogor itu sempat mengalami masalah di tengah perjalanan.
Bus mengalami bocor solar sebanyak dua kali di kawasan Lido dan Cikreteg sebelum tiba di lokasi kejadian.
"Setelah dibetulin sama sopirnya, bus jalan lagi. Waktu itu, kami semua enggak curiga," ungkap Tisna, saat ditemui di Rumah Sakit Siloam Bogor, Selasa (11/9/2018).
Tisna menuturkan, rasa khawatir mulai muncul ketika sopir bus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi saat memasuki jalur Cikidang, Sukabumi.
• Ridwan Kamil Unggah Video Cara Kerja Pagar Pembatas Jurang yang akan Dipasang di Jawa Barat
Kekhawatirannya pun makin jadi saat bus mulai melaju secara tak wajar.
Tisna yang berprofesi sebagai sales suku cadang motor di perusahaan diler itu merasa, sopir bus memaksa memasukkan gigi mobil ke posisi rendah ketika bus melaju kencang.
"Waktu itu saya paksa untuk tidur, supaya enggak kepikiran. Biar tenang. Saya ngerasa ada yang enggak beres," kata Tisna.