SBY Sebut Jokowi Berhasil Turunkan Kemiskinan 1 Persen, Gerindra: Statistik Pencitraan
Partai Gerindra turut angkat bicara mengenai angka kemiskinan yang saat ini marak diperbincangkan.
Penulis: Laila N
Editor: Fachri Sakti Nugroho
Angka itu diklaim sebagai yang terendah dalam sejarah oleh Pemerintah.
Tapi apakah kita tidak menyadari bahwa alat ukur kemiskinan @bps_statistics yang hanya mengukur pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, sudah kadaluarsa dan sangat tidak manusiawi?
Direktur Binnenlandsch Bestuur (BB) pada saat itu menyampaikan bahwa seorang rakyat Hindia-Belanda bisa hidup dengan 1 ½ sen atau segobang sehari.
Ya jika lihat dengan isu angka kemiskinan saat ini, situasi itu mirip. hari ini.
Hitungan itu diambil dari hitungan jumlah kalori yang diperlukan seorang manusia untuk bertahan hidup.
Dan akhirnya pada saat itu, Bung Karno marah.
Melalui Fikiran Ra’jat, koran yang dipimpinnya, Bung Karno melancarkan kritikan keras. Dia menulis artikel berjudul “Orang Indonesia Cukup Nafkahnya Segobang Sehari?”
Bung Karno menuding Direktur BB tidak bisa membedakan antara “cukup” dan “terpaksa”. “Terpaksa hidup dengan sebenggol, dan cukup hidup dengan sebenggol."
"Perbedaan yang sama lebarnya dengan perbedaan sana dan sini, antara kaum penjajah dan terjajah, antara kaum kolonialisator dan gekoloniseerde.”
Tidak hanya Bung Karno, Bung Hatta pada saat itu juga mempertanyakan kebenaran “riset ilmiah” itu.
Ia menggugat metodologi itu, karena hanya mengambil sampel pada 5 keluarga buruh dan 15 keluarga petani untuk menggambarkan kehidupan keseluruhan rakyat Indonesia.
Bung Hatta memberikan argumentasi satire. "Kalau sekedar untuk bertahan hidup, maka nol persen pun pasti cukup.
Sebab, naluri manusia untuk bertahan hidup akan memaksanya memakan apa saja, termasuk buah kayu, umbut (pucuk kelapa), dan rumput-rumputan."
Bung Hatta kemudian memperingatkan bahaya dari “quasi wetenschappelijk onderzoek”, sebuah riset yang tampak seolah-olah ilmiah. Termasuk dalam riset terhadap standar hidup layak manusia.
Sebuah riset yang diutak-atik metodologinya untuk menggelembungkan citra penguasa, sekalipun diberi gincu ilmiah, tetap saja “riset palsu”. - Bung Hatta -