Peneliti LIPI Beri Tanggapan soal SBY dan Prabowo jadi King Maker hingga Kehilangan Pemilih Suara
Syamsuddin Haris selaku analis politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berikan tangggapan terkait isu 'King Maker'.
Penulis: Tiffany Marantika Dewi
Editor: Wulan Kurnia Putri
Manuver itu diperlukan untuk menjaga elektabilitas Gerindra.
Apabila Prabowo tidak maju, maka elektabilitas Gerindra bisa semakin merosot.
"Karena partai butuh figur, kalau itu hilang Gerindra tenggelam. Tapi, kalau maju nanti kalah, tiga kali kalah itu enggak enak ya kan," katanya.
• Rustam Ibrahim: Saya Tak Melihat Megawati Promosikan Puan Seperti SBY kepada AHY
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin melihat Prabowo identik dengan Partai Gerindra.
Begitu juga sebaliknya, Partai Gerindra itu identik dengan nama Mantan Danjen Kopassus itu.
“Jadi jika Prabowo tidak jadi maju dalam Pilpres, maka Gerindra tidak akan menikmati elektoral dari ketokohan Prabowo,” kata Ujang dalam pernyataannya, Minggu(22/7/2018) seperti dikutip dari Tribunnews.
Ujang menjelaskan, karena Pilpres dan Pileg 2019 dilaksanakan serentak, maka maju atau tidaknya Prabowo akan menentukan suara Gerindra.
“Jika Prabowo tidak jadi maju, masyarakat yang mengidolakan Prabowo bisa saja memilih partai lain,” ujar Pengamat Politik dari Umiversitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ini.
• Komentari Prabowo, Sekjen PSI: Kebohongan Tidak Boleh Diteruskan Calon Presiden di Republik Ini
Namun, lanjut Ujang, jika Prabowo maju, maka suara pendukung Prabowo kemungkinan besar akan tetap ke Gerindra.
Ujang pun mengingatkan, Gerindra malah akan menemui ‘petaka’ di Pemilu 2019 seandainya Prabowo menjadi 'King Maker' dan mencalonkan tokoh lain.
Diketahui belakangan, muncul wacana Prabowo akan berbesar hati menjadi 'King Maker' dan mengusung Gubernur DKI Jakarta sebagai capres di Pilpres tahun depan. (TribunWow.com/Tiffany Marantika)