Penduduk Gaza Harus Bayar Listrik ke Israel, Abu Jayyab: untuk Bisa Hidup Saja Susah
2 juta penduduk Gaza telah menderita karena pemadaman listrik yang terus berlanjut semala dekade terakhir.
Penulis: Lailatun Niqmah
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Otoritas Palestina (PA) telah meminta agar penduduk Gaza mulai secara teratur membayar kepada perusahaan listrik.
Hal ini merupakan pertama kalinya Palestina meminta hal tersebut.
Otoritas Palestina mengatakan jika ingin tetap menikmati listrik, mereka harus membayar.
Dilansir Aljazeera, Jumat (5/1/2018), penduduk Gaza diharuskan membayar sekitar $ 2,8 miliar.
"Ini adalah pertama kalinya PA mengajukan permintaan semacam itu, namun pemerintah yakin bahwa perusahaan listrik yang berbasis di Gaza harus membayar jumlah yang dikeluarkannya dari sektor kelistrikan," kata salah seorang sumber.
Viral: Sopir Truk di Sumedang Tolak Beri Rokok dan Uang, Apa yang Dilakukan Preman Ini Bikin Netizen Geram
Diketahui, sejak 2006, Otoritas Palestina mengelola daerah Tepi Barat, mereka juga yang membayar kepada Israel untuk pasokan listrik ke Gaza.
Pada bulan Juni 2017, Otoritas Palestina meminta Israel untuk mengurangi pasokan listrik sebesar 40% di Gaza.
Langkah ini dipandang sebagai upaya Presiden Mahmoud Abbas untuk melemahkan pemerintah Hamas di Gaza.
Sejak Otoritas Palestina meminta Israel untuk mengurangi pasokan listrik, penduduk Gaza hanya bisa menikmati listrik 4 jam selama sehari.
Biasanya sebelum pasokan listrik dikurangi, mereka bisa menikmati listrik selama 6 hingga 8 jam per hari.
Baca berita ini: Viral! Gadis 60 Tahun Menikah dengan Laki-laki yang 20 Tahun Lebih Muda, Netizen: Cantik Ya
Menanggapi hal ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa pemadaman listrik yang lebih lama bisa mengancam dan meruntuhkan layanan utama di Gaza.
Pada hari Rabu (3/1/2018), Otoritas Palestina mengatakan mereka akan mengizinkan israel untuk memasok listrik ke Gaza.
Menurut Perdana Menteri Rami Hamdalah, permintaan tersebut untuk meringankan penderitaan rakyat Gaza dan untuk memperbaiki kondisi kehidupan mereka.
Di sisi lain Mohammad Abu Jayyab, kepala sebuah surat kabar ekonomi di Gaza, mengatakan bahwa 2 juta penduduk Gaza telah menderita karena pemadaman listrik yang terus berlanjut semala dekade terakhir.
Gadget terbaru: Dipastikan Xiaomi Mi7 Akan Menggunakan Fitur Wireless Charging, Segini Harganya
Krisis listrik hanya memperburuk keadaan bagi penduduk Gaza, yang telah mengalami tiga serangan militer besar Israel selama 10 tahun terakhir, dan yang telah merusak sebagian besar infrastruktur wilayah tersebut.
Data Bank Dunia, sekitar 42 persen warga Palestina di Gaza menderita kemiskinan, tingkat pengangguran kaum muda mencapai 58 persen, dan sekitar 80 persen mengandalkan bantuan internasional, terutama makanan.
Abu Jayyab mengatakan meminta penduduk Gaza untuk membayar listrik sangat tidak realistis.
"Saya pikir apa yang terjadi di Gaza tidak realistik, untuk dapat bertahan hidup saja mereka susah, apalagi membayar listrik," katanya.
Meski Otoritas Palestina telah meminta kembali Israel untuk memasok listrik, warga Gaza tetap harus membayar dan kehilangan satu turbin listrik di Gaza.
Baca juga: Izin Tambang Freeport Diperpanjang hingga Juni 2018, Begini Penjelasan Pemerintah
Hal tersebut lantaran turbin tersebut harus ditutup untuk membayar tagihan $ 2,8 miliar tadi.
Seorang juru bicara Perusahaan Distribusi Tenaga Listrik Gaza, Mahammad Thabet mengatakan bahwa perusahaan tersebut memang memberikan bantuan biaya pemasokan listrik.
Akan tetapi, dengan situasi ekonomi yang semakin memburuk, mereka tidak lagi mampu membayar listrik ke Israel.
Menurut Thabet, hal ini membuat permintaan Palestina kepada Gaza adalah hal yang wajar. (*)
Top 5 News! Potret Cantik Istri Wawali Gorontalo yang Terciduk BNNP hingga Lulusan Unhas Meninggal Saat Tadarus